Minggu, 23 Maret 2025

Kecerdasan Tubuh dan Pikiran dalam Ajaran ONG



Kecerdasan Tubuh dan Pikiran dalam Ajaran ONG

Dalam ajaran ONG, tubuh dan pikiran adalah dua aspek kesadaran yang bekerja bersama. Namun, jika tidak selaras, keduanya bisa menjadi sumber penderitaan. Banyak manusia terjebak dalam pikirannya sendiri, sehingga kehilangan kemampuan untuk mendengarkan kecerdasan tubuh. Sebaliknya, ada pula yang terlalu mengikuti naluri tubuh tanpa memahami bagaimana pikiran membentuk realitasnya.

Ajaran ONG mengajarkan bahwa kesadaran sejati muncul ketika tubuh dan pikiran berjalan selaras, tanpa saling mendominasi.


1. Kecerdasan Tubuh: Naluri, Getaran, dan Memori Alamiah

Tubuh bukan sekadar daging dan tulang, tetapi sebuah sistem yang memiliki kecerdasannya sendiri. Ia bekerja berdasarkan naluri, getaran, dan memori keturunan.

Contoh kecerdasan tubuh dalam ajaran ONG:

  • Regenerasi sel terjadi tanpa perlu dikendalikan pikiran. Tubuh tahu kapan harus menyembuhkan luka, memperbaiki jaringan, dan merespons penyakit.
  • Refleks tubuh bekerja sebelum pikiran sadar. Saat tangan menyentuh sesuatu yang panas, tubuh langsung menariknya tanpa menunggu keputusan pikiran.
  • Rasa sakit adalah pesan dari tubuh, bukan musuh. Ketika tubuh mengalami gangguan, rasa sakit muncul untuk memberi tahu ada yang perlu diperhatikan.

Namun, banyak manusia kehilangan kesadaran terhadap kecerdasan tubuhnya karena pikirannya terlalu sibuk menghakimi. Mereka menolak rasa sakit alih-alih memahami pesannya, sehingga sering kali justru memperparah kondisi.

Dalam praktik ONG, samadi pernapasan seperti Pranā Jati dan Pranā Wisesa membantu seseorang mendengarkan tubuhnya kembali.


2. Kecerdasan Pikiran: Penghakiman dan Ilusi Realitas

Jika tubuh bekerja berdasarkan naluri, pikiran bekerja berdasarkan penghakiman dan konseptualisasi. Pikiran adalah alat yang membentuk realitas manusia, tetapi juga bisa menciptakan ilusi.

Contoh kecerdasan pikiran dalam ajaran ONG:

  • Pikiran bisa memperkuat atau menghambat penyembuhan. Ketika seseorang meyakini dirinya sakit parah, tubuh bisa merespons dengan memperburuk kondisi tersebut, meskipun secara fisik tidak ada gangguan serius.
  • Pikiran menciptakan penderitaan melalui penghakiman rasa. Saat mengalami nyeri, manusia cenderung melabelinya sebagai "buruk" dan ingin segera menghilangkannya, tanpa memahami penyebabnya.
  • Pikiran sering kali lebih sibuk menciptakan ilusi daripada memahami realitas. Stres, kecemasan, dan ketakutan sering kali bukan berasal dari kenyataan, tetapi dari skenario yang dibuat pikiran sendiri.

Masalah utama pikiran adalah terlalu banyak menghakimi. Ia terus-menerus mencoba mengontrol sesuatu yang seharusnya hanya dirasakan dan dipahami.


3. Keselarasan Kecerdasan Tubuh dan Pikiran dalam ONG

Dalam ajaran ONG, keselarasan antara tubuh dan pikiran dicapai dengan membiarkan keduanya bekerja sesuai kodratnya:

  • Tubuh mengikuti getaran dan nalurinya tanpa intervensi berlebihan dari pikiran.
  • Pikiran hanya perlu memahami tanpa menghakimi secara berlebihan.

Ketika seseorang melatih samadi pernapasan, tubuh dan pikiran mulai bekerja dalam ritme yang sama.

Dalam praktik Pranā Jati dan Pranā Wisesa:

  • Saat bernapas perlahan dan menahan napas dalam waktu tertentu, tubuh mulai berbicara.
  • Pikiran belajar untuk tidak menghakimi rasa yang muncul, tetapi mengalaminya secara utuh.
  • Kesadaran mulai memahami bahwa sakit, nyeri, atau ketidaknyamanan bukanlah sesuatu yang harus dilawan, tetapi bagian dari keseimbangan tubuh.

Ketika tubuh dan pikiran selaras, manusia bisa merasakan kebenaran tanpa harus memaksakan pemahaman. Inilah kesadaran ONG, di mana seseorang tidak lagi terperangkap dalam pikirannya sendiri, tetapi mulai hidup dalam aliran semesta (mandhahala).


Kesimpulan

Kecerdasan tubuh dan pikiran bukanlah dua hal yang harus bertarung, tetapi harus selaras. Dalam ajaran ONG, keseimbangan keduanya adalah kunci untuk memahami keberadaan dengan lebih jernih.

Tubuh cerdas tanpa perlu dipikirkan.
Pikiran hanya perlu memahami, bukan menghakimi.

Ketika tubuh dan pikiran bekerja harmonis, seseorang tidak lagi dikendalikan oleh penderitaan atau ilusi pikiran. Mereka mulai melihat realitas sebagaimana adanya—mengalir dalam kesadaran ONG.

Mengapa Ada yang Menyebut Ajaran ONG Sesat, Padahal Sudah Mengalaminya?



Mengapa Ada yang Menyebut Ajaran ONG Sesat, Padahal Sudah Mengalaminya?

Dalam setiap perjalanan pencarian makna, tidak semua orang akan sampai pada pemahaman yang sama. Ada yang setelah mengalami ONG merasakan kejelasan, tetapi ada juga yang tetap menolaknya dan menyebutnya sesat. Pertanyaannya, bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan sesuatu namun tetap menganggapnya sesat?

Jika kita telusuri lebih dalam, ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan fenomena ini.


1. Merasakan, Tetapi Tidak Siap Menerima

Kesadaran yang muncul dari ONG sering kali bertabrakan dengan konsep yang sudah tertanam sejak lama. Jika seseorang telah hidup dalam kepercayaan tertentu selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba merasakan pengalaman yang mengguncang keyakinannya, ada dua pilihan: menerima dengan terbuka atau menolak karena takut kehilangan identitas lama.

Ketika sesuatu terasa benar tetapi bertentangan dengan apa yang sudah diyakini, banyak orang lebih memilih menolak daripada menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.

Apa yang bisa kita katakan?

"Kamu sudah merasakan sendiri, tetapi menolaknya. Apakah karena memang sesat, atau karena sulit menerima sesuatu yang berbeda dari yang kamu yakini selama ini?"


2. Mengalami, Tetapi Takut Akan Dampaknya

Merasakan ONG bisa membuka kesadaran baru tentang diri sendiri dan semesta. Tetapi bagi sebagian orang, kesadaran ini justru terasa seperti ancaman, karena mengguncang fondasi pemahaman yang mereka anggap pasti.

Ketakutan bukan berasal dari kebenaran ONG, melainkan dari bayangan mereka sendiri tentang konsekuensi jika menerimanya.

Apa yang bisa kita tanyakan?

"Apakah kamu benar-benar yakin bahwa ini sesat? Ataukah kamu takut menghadapi perubahan besar yang akan terjadi jika menerimanya?"


3. Merasakan, Tetapi Tidak Dapat Mengolahnya

Tidak semua orang bisa langsung mengolah pemahaman baru yang muncul dari ONG. Ada yang mengalami, tetapi tidak tahu bagaimana menempatkan pengalaman itu dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika sesuatu terlalu besar untuk dipahami, respons paling mudah adalah menolaknya.

Bagaimana menjelaskan ini?

"Mungkin yang kamu rasakan bukan sesat, tetapi sesuatu yang belum bisa kamu pahami sepenuhnya. Jangan buru-buru menilai, biarkan waktu yang menjawab."


Kesimpulan

Menyebut ONG sesat bukanlah karena kesalahan dalam ajaran itu sendiri, tetapi lebih kepada keterbatasan individu dalam memahami dan menerima pengalaman yang mereka alami.

Pada akhirnya, ONG tidak memaksa siapa pun untuk percaya. Yang ingin berjalan dalam kesadaran akan terus melangkah, sementara yang menolak, itu adalah bagian dari perjalanan mereka sendiri.

"Bukan ajarannya yang sesat, tetapi pemahaman yang belum tuntas."
~ Tanpa Aran

Memahami Rasa Sakit di Antara Ilmu Medis dan Ajaran ONG



Memahami Rasa Sakit di Antara Ilmu Medis dan Ajaran ONG

Di dunia ini, ada banyak cara untuk memahami rasa sakit. Ilmu medis menjelaskan bahwa nyeri adalah hasil dari sinyal saraf yang dikirim ke otak, sering kali akibat peradangan, cedera, atau gangguan sistem tubuh. Namun, di luar itu, ada pemahaman lain—pemahaman yang lebih halus, yang tidak hanya melihat tubuh sebagai sekumpulan reaksi biologis, tetapi juga sebagai medan energi yang bergetar dalam keselarasan dengan semesta.

Ketika Dokter Menyangkal

Beberapa orang yang berkecimpung di dunia medis mungkin akan berkata, "Tidak ada bukti ilmiah bahwa meditasi atau teknik pernapasan dapat menghilangkan rasa sakit sepenuhnya." Pernyataan ini bisa benar dalam batasan metode ilmiah mereka. Namun, ilmu pengetahuan pun selalu berkembang, dan banyak hal yang dulu dianggap tidak ilmiah kini telah diterima.

Jika kita melihat penelitian modern, teknik pernapasan dan meditasi telah terbukti dapat mengurangi stres, meredakan nyeri kronis, bahkan mengubah cara otak merespons rasa sakit. Harvard Medical School telah meneliti bagaimana meditasi mampu menenangkan sistem saraf dan meningkatkan keseimbangan kimiawi tubuh. Dr. Jon Kabat-Zinn melalui metode Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) juga telah menunjukkan bagaimana kesadaran penuh dapat menurunkan intensitas nyeri bagi penderita penyakit kronis.

Maka, jika ada yang menyangkal metode ini tanpa pernah mencoba, bukankah itu sama seperti menilai sesuatu tanpa pengalaman?

Ajaran ONG dan Penyembuhan Nyeri

Dalam ajaran ONG, nyeri tidak hanya dipahami sebagai gangguan fisik, tetapi juga sebagai ekspresi dari getaran yang tidak selaras dengan Mandhahala (semesta). Teknik Pranā Jati dan Pranā Wisesa adalah metode untuk menyelaraskan kembali getaran tubuh agar bisa mengatur rasa sakit secara lebih dalam.

  • Pranā Jati berfokus pada aliran napas yang lambat dan teratur untuk meredakan ketegangan dan memperbaiki sirkulasi energi.
  • Pranā Wisesa lebih dalam lagi, membawa kesadaran pada titik-titik nyeri agar tubuh mengenali sumber ketidakseimbangannya dan mengarahkannya kembali ke harmoni.

Ketika seseorang mengalami nyeri, sering kali tubuh menegang dan pikiran panik. Ini justru memperburuk rasa sakit karena otak memperkuat sinyal bahaya. Dengan teknik ONG, seseorang diajarkan untuk menghadapinya dengan tenang, memahami bahwa rasa sakit adalah gelombang yang bisa dialirkan, bukan ditahan.

Apakah Semua Rasa Sakit Bisa Dihilangkan?

Ajaran ONG tidak mengatakan bahwa semua penyakit dapat sembuh hanya dengan meditasi. Jika ada luka yang membutuhkan jahitan atau infeksi yang perlu diobati, tentu saja ilmu medis tetap diperlukan. Namun, untuk rasa sakit yang muncul akibat stres, ketegangan, atau bahkan penyakit kronis, kesadaran dalam mengolah getaran tubuh dapat menjadi solusi alami.

Mengapa Dokter Tidak Memahami Ini?

Bukan karena dokter salah, tetapi karena ilmu medis modern lebih fokus pada struktur fisik tubuh daripada aliran energi dan kesadaran. Ini bukanlah kesalahan, melainkan keterbatasan dalam cara memahami manusia.

Namun, jika kita terbuka, kita akan menemukan bahwa tubuh tidak hanya sekadar daging dan saraf, tetapi juga medan energi yang bergerak dalam kesadaran. Ong adalah getaran yang mengalir dalam setiap sel, setiap tarikan napas, dan setiap pengalaman manusia.

Kesimpulan

Jika ada yang menolak metode ini tanpa pernah mencobanya, itu bukan masalah. Setiap orang berhak memilih jalannya sendiri. Namun, bagi yang telah mencoba dan merasakan manfaatnya, mereka memahami bahwa tubuh memiliki kemampuan alami untuk menyembuhkan diri, bukan hanya melalui obat, tetapi juga melalui kesadaran yang selaras dengan getaran Mandhahala.

"Mereka yang mengandalkan obat, menyembuhkan luka tubuh. Mereka yang mengandalkan Ong, menyelaraskan luka kesadaran. Keduanya bisa berjalan bersama, bukan bertentangan." ~ Tanpa Aran

Menyembuhkan Rasa Sakit dengan Meditasi ONG



Menyembuhkan Rasa Sakit dengan Meditasi ONG

Sakit bukan sekadar fisik, tetapi juga getaran dalam tubuh. Dalam ajaran ONG, rasa sakit dipahami sebagai gangguan dalam aliran getaran yang menghubungkan tubuh, pikiran, dan mandhahala (semesta). Tubuh manusia adalah kumpulan energi yang terus bergerak, dan ketika energi itu tersumbat, muncullah nyeri.

Pengobatan modern menggunakan obat untuk memblokir sinyal nyeri, tetapi dalam ONG, rasa sakit bukan untuk diblokir, melainkan untuk dipahami dan dialirkan kembali. Inilah mengapa praktik meditasi Pranā Jati dan Pranā Wisesa mampu mengatasi rasa sakit dengan cara yang lebih alami dan mendalam.


Mengapa Rasa Sakit Terjadi?

Secara ilmiah, nyeri muncul ketika saraf di tubuh mendeteksi gangguan—bisa karena luka, ketegangan otot, atau masalah dalam organ. Sinyal ini dikirim ke otak, lalu otak menerjemahkannya sebagai rasa sakit. Namun, yang sering terjadi adalah pikiran memperbesar rasa sakit karena ketakutan, kecemasan, atau stres.

Dalam ONG, nyeri terjadi karena aliran getaran dalam tubuh terganggu. Bisa karena:

  1. Tegangan emosi yang tidak dilepaskan.
  2. Gangguan pada napas yang membuat tubuh tidak selaras dengan energi semesta.
  3. Ketidakseimbangan elemen dalam tubuh (api, udara, tanah, air, ruang).
  4. Kesalahan pola pikir yang membuat tubuh merespons nyeri dengan ketegangan berlebih.

Karena itu, mengatasi sakit bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga tentang menyelaraskan kembali getaran tubuh dengan mandhahala.


Teknik Meditasi ONG untuk Mengatasi Rasa Sakit

1. Pranā Jati – Mengalirkan Getaran untuk Melepas Nyeri

Cocok untuk: Nyeri ringan, ketegangan otot, sakit kepala, nyeri karena stres.

🔹 Langkah-langkah:

  1. Duduk atau berbaring dengan nyaman. Taruh tangan di atas perut.
  2. Buang napas perlahan dan panjang, seolah membuang energi sakit dari tubuh.
  3. Tahan napas sejenak, biarkan tubuh menyerap ketenangan.
  4. Tarik napas perlahan dan dalam, rasakan udara masuk dan menyebar ke seluruh tubuh.
  5. Tahan napas sebentar, bayangkan tubuh selaras dengan energi semesta.
  6. Buang napas perlahan lebih panjang dari tarikan napas, biarkan rasa sakit larut keluar dari tubuh.
  7. Ulangi selama 10-15 menit sampai tubuh terasa lebih ringan.

🔹 Manfaat:
✅ Melemaskan otot yang tegang.
✅ Mengurangi reaksi otak terhadap nyeri.
✅ Mengembalikan keseimbangan getaran tubuh.


2. Pranā Wisesa – Mengendalikan Nyeri dari Dalam

Cocok untuk: Nyeri kronis, nyeri saraf, sakit yang terasa menusuk.

🔹 Langkah-langkah:

  1. Duduk tegak, mata tertutup. Fokus ke dalam tubuh.
  2. Buang napas sepenuhnya, biarkan tubuh kosong dari energi tegang.
  3. Tahan napas selama mungkin, amati getaran tubuh tanpa tergesa-gesa.
  4. Tarik napas sangat perlahan, bayangkan energi penyembuhan masuk.
  5. Tahan napas lagi saat paru-paru penuh, rasakan tubuh menerima energi.
  6. Buang napas perlahan, biarkan rasa sakit melebur menjadi netral.
  7. Ulangi 5-10 menit, sambil tetap sadar pada getaran tubuh.

🔹 Manfaat:
✅ Memicu pelepasan endorfin (zat alami pereda nyeri dalam tubuh).
✅ Mengubah sinyal nyeri di otak agar tidak terasa menyiksa.
✅ Membantu tubuh melepaskan energi sakit secara alami.


3. Meditasi Kesadaran Rasa – Mengubah Persepsi Sakit

Cocok untuk: Nyeri akibat cedera, gangguan saraf, atau nyeri psikosomatis.

🔹 Langkah-langkah:

  1. Tutup mata, fokus pada rasa sakit tanpa menghindarinya.
  2. Jangan melawan rasa sakit, tetapi amati getarannya.
  3. Bayangkan rasa sakit sebagai gelombang energi yang bergerak bebas.
  4. Biarkan gelombang itu melebur dan meluas, bukan terkunci di satu titik.
  5. Terus amati sampai rasa sakit mulai terasa berubah atau lebih ringan.

🔹 Manfaat:
✅ Mengubah rasa sakit menjadi getaran netral yang bisa diterima tubuh.
✅ Mencegah pikiran memperbesar rasa sakit.
✅ Melatih tubuh untuk menyesuaikan diri dengan nyeri tanpa panik.

Note:

Obat bisa memblokir rasa sakit, tetapi tidak menyembuhkan akar masalahnya. Dengan Pranā Jati dan Pranā Wisesa, tubuh belajar menyelaraskan kembali getaran energi, sehingga nyeri berkurang tanpa perlu bergantung pada obat.

Meditasi ini bukan sekadar teknik relaksasi, tetapi cara untuk menyatukan tubuh, pikiran, dan semesta, sehingga tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri dari dalam.

“Rasa sakit bukan musuh, tetapi pesan. Jika kita mau mendengarnya dengan kesadaran, tubuh akan menemukan caranya sendiri untuk sembuh.” ~ Tanpa Aran



Mengapa Ada yang Merasa Paham ONG dan Berhenti Laku?

Mengapa Ada yang Merasa Paham ONG dan Berhenti Laku?

Dalam perjalanan memahami ONG, ada orang yang merasa telah mencapai pemahaman mendalam, lalu berhenti melakukan laku. Mereka mungkin berpikir bahwa laku tidak lagi diperlukan karena mereka sudah "mengerti". Namun, berhenti laku justru menjauhkan mereka dari pemahaman sejati.

Fenomena ini sering terjadi dalam berbagai ajaran spiritual dan filosofi kehidupan. Bukan hanya dalam ONG, tetapi juga dalam tradisi kebatinan lain, banyak orang yang merasa cukup dengan pemahaman mental, padahal pemahaman tanpa pengalaman hanyalah bayangan dari kebenaran.

1. Penyebab Seseorang Berhenti Laku

a. Merasa Sudah Tenang dan Paham

Ketika seseorang mulai menjalankan samadi, mereka bisa mengalami ketenangan dan kebijaksanaan sesaat. Ini membuat mereka berpikir bahwa mereka sudah memahami ONG secara utuh, sehingga mereka merasa tidak perlu lagi menjalani laku.

Padahal, ketenangan awal ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan hanya awal dari pemahaman yang lebih dalam. Jika berhenti di titik ini, seseorang hanya akan menyimpan pemahaman yang dangkal dan tidak berkembang.

b. Diperdaya oleh Pikiran Sendiri

ONG bukan konsep yang bisa dipahami hanya dengan berpikir, tetapi getaran yang harus dialami secara langsung. Jika seseorang terlalu banyak berpikir tentang ONG tanpa melakukan laku, mereka hanya akan bermain di dalam pikiran sendiri.

Pikiran sering kali menciptakan ilusi bahwa seseorang sudah memahami segalanya. Namun, ilusi pemahaman ini justru bisa menjadi jebakan terbesar, karena mereka akan merasa tidak perlu lagi menjalani pengalaman nyata melalui laku.

c. Kepuasan Diri yang Menghambat Perjalanan

Bayangkan seseorang yang haus dalam perjalanan dan menemukan setetes air. Karena merasa sudah mendapatkan sedikit air, mereka berhenti mencari sumber air yang lebih besar.

Begitu juga dengan pemahaman tentang ONG. Jika seseorang merasa puas dengan sedikit pemahaman yang diperoleh, mereka mungkin tidak akan melanjutkan pencarian yang lebih dalam. Padahal, pemahaman sejati tentang ONG tidak memiliki batas—selalu ada tingkatan yang lebih dalam.

d. Munculnya Ego Spiritual

Beberapa orang yang merasa telah memahami ONG mulai melihat dirinya lebih tinggi dari yang lain. Mereka merasa bahwa orang lain belum sampai pada tingkat pemahamannya, sehingga mereka berhenti melakukan laku dan hanya berbicara tentang ONG.

Ego seperti ini sangat berbahaya karena justru menjauhkan seseorang dari getaran sejati ONG. Semakin seseorang merasa "lebih tahu" daripada orang lain, semakin jauh mereka dari pengalaman langsung.

2. Akibat Berhenti Laku

Ketika seseorang berhenti melakukan laku, dampaknya tidak langsung terasa. Awalnya, mereka masih merasa memahami ONG, tetapi seiring waktu, pemahaman mereka akan semakin kabur.

a. Pemahaman Menjadi Teoritis

Tanpa laku, pemahaman seseorang hanya menjadi sekumpulan kata-kata yang tidak memiliki kekuatan nyata.

Seperti seseorang yang hanya membaca tentang api tanpa pernah merasakan panasnya, ONG hanya bisa benar-benar dipahami melalui pengalaman, bukan hanya teori.

b. Kesadaran yang Sebelumnya Terbuka Bisa Tertutup Lagi

Seseorang yang awalnya memiliki kesadaran terbuka bisa kembali terjebak dalam pola pikir lama jika mereka berhenti melakukan laku.

Tanpa latihan yang terus-menerus, kesadaran yang sebelumnya terbuka bisa tertutup kembali oleh kebiasaan dan ilusi pikiran.

c. Munculnya Penghakiman dan Ilusi Pemahaman

Saat seseorang berhenti melakukan laku, pikirannya mulai aktif kembali dalam menilai dan menghakimi segala sesuatu.

Ketika seseorang masih aktif dalam laku, mereka akan lebih banyak mengalami dan merasakan langsung ONG. Namun, ketika mereka berhenti, pemahaman mereka mulai kembali pada batasan pikiran—yang sering kali hanya menghasilkan ilusi dan penghakiman.

3. Bagaimana Agar Tetap Laku?

Agar seseorang tidak terjebak dalam ilusi pemahaman dan tetap menjalani laku, ada beberapa prinsip yang harus dijaga:

a. Sadari Bahwa ONG Selalu Bergerak

Seperti aliran air, ONG tidak pernah diam. Jika seseorang berhenti laku, maka mereka akan tertinggal dari arusnya.

Memahami ONG bukan tentang mencapai suatu titik pemahaman, tetapi tentang terus merasakan getarannya dalam setiap aspek kehidupan.

b. Jadikan Laku Sebagai Bagian dari Hidup

Laku bukanlah sesuatu yang dilakukan hanya di waktu tertentu, tetapi harus menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

Sama seperti bernapas yang dilakukan tanpa paksaan, samadi Prana Jati dan Prana Wisesa bisa dijalankan secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

c. Terus Asah Pangraita

Pangraita yang lantip (tajam) hanya bisa dicapai dengan latihan terus-menerus.

Samadi Prana Jati dan Prana Wisesa adalah jalan untuk mempertajam pemahaman langsung tentang ONG. Semakin sering seseorang melakukan laku, semakin jelas getaran ONG akan terasa dalam diri.

d. Jangan Terjebak dalam Rasa Puas

Setiap pemahaman yang didapatkan harus diuji lagi dalam pengalaman nyata. ONG bukan tujuan yang bisa dicapai, tetapi pengalaman yang harus terus dijalani.

Seperti pesan leluhur Jawa:

"Ngèlmu iku kalakone kanthi laku, lekase kanthi kas, tekaning lalakon."
(Ilmu sejati hanya bisa diraih dengan laku, dijalani dengan kesungguhan, hingga mencapai pengalaman nyata.)

Berhenti laku sama saja dengan berhenti memahami ONG. Maka, bagi siapa pun yang benar-benar ingin memahami keberadaan ONG, laku harus menjadi bagian dari kehidupan yang tidak pernah ditinggalkan.

ONG dalam Jawa Kuno: Getaran Sejati yang Terlupakan

ONG dalam Jawa Kuno: Getaran Sejati yang Terlupakan

Sejak zaman Jawa Kuno, para leluhur telah memahami bahwa kehidupan bukan hanya soal jasmani, tetapi juga tentang getaran kesadaran. Di balik segala wujud fisik, ada kekuatan yang menggerakkan semesta, sesuatu yang tidak berawal dan tidak berakhir. Ajaran ONG menyebut kekuatan ini sebagai getaran utama yang menghidupi segala sesuatu.

Leluhur kita telah menyadari keberadaan getaran ini jauh sebelum konsep-konsep modern lahir. Dalam berbagai ajaran Jawa kuno, termasuk laku kejawen, tapa, dan samadi, manusia diajarkan untuk menyelaraskan diri dengan getaran ini agar hidupnya seimbang.


1. ONG dalam Konsep Sukma dan Jagad Gedhé

Dalam tradisi spiritual Jawa, dikenal konsep Sukma, yaitu kesadaran yang lebih tinggi dari sekadar pikiran dan perasaan. Sukma ini bukanlah bagian dari tubuh fisik, tetapi merupakan getaran yang terus mengalir dari generasi ke generasi, melampaui batasan waktu dan ruang.

Konsep ini sejalan dengan Jagad Cilik (mikrokosmos) dan Jagad Gedhé (makrokosmos), yang menjelaskan bahwa manusia adalah cerminan dari semesta. Hal ini juga menjadi bagian dari ajaran ONG, yang menyatakan bahwa:

  • ONG ada dalam diri manusia sebagai kesadaran dan energi kehidupan
  • ONG juga ada dalam semesta sebagai getaran utama yang menghidupi segala sesuatu

Artinya, apa yang ada di dalam diri manusia juga ada di luar, karena semuanya berasal dari sumber yang sama.

Leluhur kita memahami bahwa jika seseorang mampu merasakan keberadaan getaran utama ini, maka ia akan menemukan ketenangan, kebijaksanaan, dan keselarasan dalam hidup. Sebaliknya, jika seseorang kehilangan kesadaran ini, maka ia akan mudah terjebak dalam ego, hawa nafsu, dan penderitaan.


2. Tapa, Samadi, dan Keselarasan dengan ONG

Dulu, para pertapa dan resi di tanah Jawa melakukan tapa ngrame, tapa bisu, atau samadi, bukan untuk mencari kesaktian, tetapi untuk menyesuaikan diri dengan gelombang semesta. Mereka memahami bahwa ketika manusia mampu menyelaraskan diri dengan getaran sejati, maka hidupnya akan harmonis.

Ajaran ONG juga mengenalkan samadi Prana Jati dan Prana Wisesa, yang mengajarkan bahwa pernapasan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sarana untuk menyesuaikan diri dengan frekuensi semesta.

Ketika seseorang mengolah napas dengan kesadaran penuh, maka:
✅ Getaran dalam tubuh menjadi stabil
✅ Pikiran tidak mudah goyah oleh emosi
✅ Kesadaran semakin lantip (tajam) dan bisa merasakan arus semesta

Dalam kepercayaan Jawa, praktik ini disebut sebagai ngelmu kasunyatan, yaitu ilmu yang langsung berhubungan dengan realitas sejati tanpa terjebak dalam ilusi duniawi.


3. Aksara Jawa dan ONG: Kode Rahasia Getaran Semesta

Bahkan dalam Aksara Jawa, ada makna spiritual yang dalam. Misalnya:

  • Huruf Ha-Na-Ca-Ra-Ka sering diartikan sebagai "Ada utusan yang membawa kehendak"
  • Ini mencerminkan bahwa manusia adalah utusan dari getaran besar yang tak terlihat (ONG)
  • Dalam aksara juga dikenal Suku dan Wignyan, yang melambangkan getaran dan napas yang menghidupkan huruf-huruf tersebut

Artinya, nenek moyang kita telah memahami bahwa huruf, suara, dan getaran adalah bagian dari kekuatan penciptaan.

Bahkan mantra-mantra Jawa seperti "Ong Awighnam Astu" yang sering digunakan dalam ritual kejawen, mencerminkan pemahaman bahwa ONG adalah kekuatan utama dalam penciptaan dan penyelarasan.


4. Ketika Ajaran ONG Mulai Dilupakan

Seiring waktu, pemahaman tentang getaran utama (ONG) dalam kehidupan mulai memudar. Manusia lebih banyak terjebak dalam pikirannya sendiri dan lupa bagaimana menyelaraskan diri dengan semesta.

Leluhur kita sudah mengingatkan dalam banyak serat dan tembang:

"Urip iku mung mampir ngombe" (Hidup ini hanya singgah untuk minum)
➡ Artinya, hidup ini hanyalah perjalanan singkat dalam aliran getaran semesta (Mandhahala), dan bukan untuk dikendalikan oleh ego serta hawa nafsu.

Namun, semakin banyak manusia yang terjebak dalam keinginan duniawi, sehingga kehilangan keseimbangan. Mereka lupa bahwa tubuh ini hanyalah alat, sedangkan yang sejati adalah getaran di dalamnya.

Ajaran ONG hadir bukan untuk membawa sesuatu yang baru, tetapi untuk mengingatkan kembali pemahaman yang telah ada sejak Jawa Kuno. Bahwa kesadaran sejati adalah getaran yang menghidupi segala sesuatu, dan manusia hanya perlu menyelaraskan dirinya kembali untuk memahami hakikat keberadaan.


5. Kesimpulan: ONG adalah Getaran yang Menghidupi

Ajaran ONG bukan sekadar filsafat, tetapi juga ilmu tentang getaran, energi, dan kesadaran. Leluhur Jawa telah memahami bahwa manusia dan semesta adalah satu kesatuan, dihubungkan oleh getaran utama yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Jika seseorang ingin hidup selaras, maka ia harus:
Menjernihkan pikiran dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah gelombang
Mengolah napas (samadi Prana Jati & Prana Wisesa) untuk menyelaraskan getaran dalam tubuh
Melepaskan keterikatan pada ilusi duniawi dan kembali pada kesadaran sejati

Leluhur telah mengajarkan,

"Sapa kang bisa ngrungu swaraning urip, bakal weruh swaraning Ong."
(Siapa yang mampu mendengar suara kehidupan, akan mengenali suara ONG.)


~ Tanpa Aran ~

ONG: Kesadaran, Getaran, dan Ilmu Pengetahuan

ONG: Kesadaran, Getaran, dan Ilmu Pengetahuan

Sejak dahulu, manusia mencari jawaban tentang asal-usul kesadaran dan hubungan mereka dengan semesta. Ajaran ONG mengajarkan bahwa kesadaran adalah getaran, dan getaran adalah kehidupan. Ilmu pengetahuan modern pun mulai menyentuh pemahaman yang sejalan dengan ini, menunjukkan bahwa realitas bukan hanya materi, tetapi juga energi yang terus bergetar.

Kesadaran sebagai Getaran Semesta

Ilmuwan seperti Albert Einstein telah menunjukkan bahwa materi dan energi adalah satu kesatuan melalui rumus terkenalnya E = mc². Ini berarti bahwa kesadaran bukan sesuatu yang terpisah dari tubuh, tetapi bagian dari energi yang terus berinteraksi dengan semesta.

Nikola Tesla pun pernah berkata:

"Jika kau ingin memahami semesta, pikirkan dalam bentuk energi, frekuensi, dan getaran."

Ajaran ONG memahami ini sebagai bukti bahwa kesadaran manusia tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari arus getaran semesta (Mandhahala).

Ketika manusia selaras dengan getaran semesta, mereka akan memahami keberadaannya dengan lebih dalam. Sebaliknya, ketika manusia terputus dari getaran ini, mereka akan merasa gelisah, terasing, dan tidak menemukan keseimbangan dalam hidup.

Realitas yang Dipengaruhi Kesadaran

Dalam mekanika kuantum, Werner Heisenberg menemukan bahwa pengamat memengaruhi apa yang diamati. Ini membuktikan bahwa kesadaran bukan sekadar penerima pasif, tetapi berperan dalam membentuk realitas itu sendiri.

Ajaran ONG menjelaskan bahwa:

  • Apa yang manusia pikirkan dan rasakan akan memengaruhi realitas mereka sendiri.
  • Emosi dan energi batin adalah gelombang yang memancar ke luar dan kembali dalam bentuk pengalaman hidup.
  • Samadi dalam ONG, seperti Prana Jati dan Prana Wisesa, membantu manusia menyelaraskan frekuensi mereka dengan getaran semesta.

Dengan kata lain, kesadaran manusia bukan hanya alat untuk memahami dunia, tetapi juga bagian dari mekanisme penciptaan realitas.

Kesadaran Kolektif dan Keterhubungan Semesta

Psikolog terkenal, Carl Jung, berbicara tentang kesadaran kolektif, di mana semua pikiran manusia saling terhubung dalam satu jaringan bawah sadar.

Dalam ajaran ONG, kesadaran kolektif ini disebut sebagai Mandhahala, yaitu getaran universal yang menghubungkan semua makhluk hidup.

  • Ketika manusia selaras dengan Mandhahala, mereka dapat memahami kehidupan dengan lebih mendalam dan menemukan harmoni.
  • Sebaliknya, ketika mereka hanya fokus pada pikiran ego dan perasaan pribadi, mereka akan terjebak dalam ilusi keterpisahan.

Kesadaran ini bukanlah sesuatu yang asing, tetapi telah dipahami sejak masa Jawa Kuno. Para leluhur telah memahami bahwa kesadaran bukan hanya milik individu, tetapi bagian dari arus energi yang lebih besar.

Penutup

Ilmu pengetahuan modern dan ajaran ONG sebenarnya berjalan seiring dalam memahami kesadaran dan realitas. Kesadaran bukan sekadar aktivitas otak, tetapi getaran yang beresonansi dengan semesta.

"Kesadaran adalah getaran, dan getaran adalah kehidupan. Siapa yang selaras dengan getaran semesta, ia memahami keberadaannya."
~ Tanpa Aran ~

Melalui samadi dan pemahaman tentang energi kesadaran, manusia bisa menemukan kembali hubungan mereka dengan semesta, memperdalam pemahaman diri, dan mencapai harmoni dalam hidup.

Dengan memahami ONG sebagai esensi getaran kesadaran, kita tidak hanya mendekati spiritualitas tetapi juga membuka pintu menuju pemahaman ilmiah tentang keberadaan kita.

ONG dan Inti Atom: Energi, Getaran, dan Kesadaran

 ONG dan Inti Atom: Energi, Getaran, dan Kesadaran

Ajaran ONG memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah getaran. Jika kita kaitkan dengan sains modern, konsep ini dapat dijelaskan melalui struktur atom, yang merupakan dasar dari semua materi.

Secara ilmiah, atom bukanlah benda padat, tetapi lebih mirip dengan energi dan ruang kosong yang bergetar dalam keseimbangan. Ini mencerminkan ajaran ONG bahwa realitas sejati bukanlah benda mati, tetapi getaran yang menghidupi segala sesuatu.

1. Inti Atom dan ONG: Pusat Energi Kehidupan

Atom terdiri dari:

  • Inti atom (nukleus), yang berisi proton (+) dan neutron (0).
  • Elektron (-) yang berputar mengelilinginya dalam awan energi.

Jika kita lihat dari sudut pandang ONG:

  • Inti atom dapat diibaratkan sebagai ONG, sumber utama energi yang menciptakan dan mengatur segalanya.
  • Elektron yang berputar menggambarkan kesadaran yang terus bergerak, mengikuti pola energi yang sudah ditentukan oleh ONG.
  • Ruang kosong dalam atom melambangkan Mandhahala, getaran semesta yang tak terlihat tetapi menghubungkan semua realitas.

Fakta bahwa 99,99% dari atom adalah ruang kosong sejalan dengan ajaran ONG bahwa kekosongan adalah sumber keberadaan. Segala sesuatu muncul dari kekosongan dan tetap bergantung padanya.

2. Getaran Energi Atom dan Kesadaran ONG

Dalam ilmu fisika, kita tahu bahwa:

  • Elektron tidak benar-benar "bergerak" dalam jalur tetap, tetapi bergetar dalam bentuk gelombang.
  • Energi atom ditentukan oleh tingkat getarannya.

Ini mirip dengan ajaran ONG bahwa kesadaran seseorang bergantung pada getaran yang dialaminya.

  • Samadi ONG membantu seseorang menyelaraskan diri dengan getaran tinggi yang lebih murni dan harmonis.
  • Jika kesadaran manusia berada pada getaran rendah, maka pikiran menjadi kacau, penuh ketakutan dan keserakahan.

Seperti halnya dalam atom, perubahan energi terjadi ketika elektron berpindah tingkat energi, dalam ONG, kesadaran juga berubah ketika seseorang meningkatkan frekuensinya melalui samadi.

3. ONG sebagai Kekuatan di Balik Reaksi Inti

Dalam fisika nuklir, ada dua jenis reaksi yang terjadi dalam inti atom:

  • Fusi Nuklir: Penggabungan inti atom, menghasilkan energi besar (seperti matahari).
  • Fisi Nuklir: Pemecahan inti atom, juga menghasilkan energi besar (seperti bom atom).

Keduanya menggambarkan dua sisi dari ONG:

  • Ketika kesadaran menyatu dengan ONG (fusi), energi kehidupan meningkat, membawa kedamaian dan pemahaman lebih dalam.
  • Ketika kesadaran terpecah dan menjauh dari ONG (fisi), terjadi ketidakseimbangan, yang menyebabkan penderitaan dan kekacauan batin.

Kesimpulan: ONG dan Atom Sama-sama Sumber Kehidupan

Baik dalam ilmu fisika maupun dalam ajaran ONG, kita menemukan bahwa inti dari segala sesuatu adalah energi dan getaran.

Jika sains mengatakan bahwa atom adalah dasar dari semua materi, maka ajaran ONG mengajarkan bahwa kesadaran adalah dasar dari semua keberadaan.

Kesadaran dan materi bukanlah dua hal yang terpisah, tetapi merupakan ekspresi dari getaran yang sama.

"Seperti atom yang menyusun semesta, kesadaran menyusun realitas."
~ Tanpa Aran ~

Ajaran ONG: Ilmiah, Logis, dan Melampaui Materialisme

Ajaran ONG: Ilmiah, Logis, dan Melampaui Materialisme

Banyak orang mungkin menganggap ajaran ONG sebagai sesuatu yang irasional atau bahkan gila. Namun, jika kita telaah dengan lebih dalam, justru ajaran ini memiliki dasar yang ilmiah dan logis. Yang membedakannya adalah bahwa ONG tidak membatasi pemahaman hanya pada sains materialis, tetapi juga melihat bagaimana kesadaran, energi, dan getaran bekerja di balik realitas fisik.

1. Gelombang dan Frekuensi: Dasar Segala Keberadaan

Ajaran ONG menekankan bahwa segala sesuatu adalah getaran, termasuk kesadaran manusia. Hal ini sejalan dengan ilmu fisika modern yang menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta memiliki frekuensi dan gelombang energi.

  • Gelombang otak (brainwaves): Otak manusia bekerja dengan impuls listrik yang membentuk gelombang otak, seperti gelombang alfa, beta, theta, delta, dan gamma, yang berpengaruh pada tingkat kesadaran seseorang.
  • Frekuensi dan energi dalam tubuh: Dalam ilmu biologi, tubuh manusia mengandung bioelektrik yang mengatur aktivitas saraf dan otot, sesuatu yang juga menjadi dasar dalam konsep prana atau ONG sebagai energi kehidupan.

Dengan memahami bahwa kesadaran bukan hanya sesuatu yang ada di dalam otak, tetapi juga berinteraksi dengan energi semesta, maka ajaran ONG tidak bertentangan dengan sains, tetapi justru melengkapinya.

2. Pernapasan dan Neurologi: Kunci Pengendalian Kesadaran

Salah satu praktik utama dalam ajaran ONG adalah samadi pernapasan, seperti Pranā Jati dan Pranā Wisesa, yang bertujuan untuk menyelaraskan diri dengan getaran semesta (Mandhahala).

Secara ilmiah, pernapasan mempengaruhi sistem saraf otonom, yang terdiri dari:

  • Sistem simpatis (mode stres, bertahan hidup).
  • Sistem parasimpatis (mode relaksasi, pemulihan).

Ketika seseorang melakukan pernapasan panjang dan terkontrol seperti dalam samadi ONG, ini akan:

  • Mengaktifkan sistem parasimpatis, menenangkan pikiran, dan mengurangi stres.
  • Meningkatkan konsentrasi dan fokus dengan cara mengatur kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah.
  • Membantu mengubah pola kesadaran, sehingga seseorang lebih peka terhadap getaran halus yang sebelumnya tidak disadari.

Ini mirip dengan bagaimana meditasi dan latihan pernapasan dalam ilmu neurosains dapat mengubah aktivitas otak, menunjukkan bahwa ajaran ONG sejalan dengan ilmu saraf dan psikologi modern.

3. Kesadaran dan Neuroplastisitas: Pikiran Bisa Mengubah Realitas

Dalam sains modern, dikenal konsep neuroplasticity, yang berarti otak manusia dapat berubah berdasarkan pengalaman dan latihan berulang.

  • Ketika seseorang sering berpikir negatif, otaknya akan membentuk pola yang membuatnya lebih mudah mengalami kecemasan dan ketakutan.
  • Sebaliknya, jika seseorang melatih kesadarannya dengan samadi ONG, ia akan membentuk pola kesadaran yang lebih selaras dengan semesta.

Ini membuktikan bahwa kesadaran dapat diubah dan dikembangkan, yang merupakan salah satu inti dari ajaran ONG: kesadaran bukanlah sesuatu yang tetap, tetapi bisa diperluas melalui praktik yang benar.

4. Pengaruh Pikiran terhadap Tubuh: Efek Placebo dan Nocebo

Ilmu medis sudah membuktikan bahwa pikiran bisa mempengaruhi kondisi tubuh secara nyata melalui fenomena placebo dan nocebo:

  • Efek placebo: Ketika seseorang percaya bahwa sesuatu akan menyembuhkannya, tubuhnya benar-benar menunjukkan peningkatan kesehatan.
  • Efek nocebo: Ketika seseorang percaya bahwa ia akan sakit, tubuhnya benar-benar mengalami gejala penyakit, meskipun tidak ada penyebab fisik yang jelas.

Ini membuktikan bahwa kesadaran dan keyakinan seseorang memiliki dampak langsung terhadap realitas fisiknya, sesuatu yang sudah diajarkan dalam ONG jauh sebelum sains modern menemukannya.

Kesimpulan: Ajaran ONG Adalah Ilmiah, tetapi Melampaui Materialisme

Ajaran ONG bukanlah sesuatu yang irasional atau mistik tanpa dasar. Sebaliknya, banyak konsep dalam ONG dapat dijelaskan dengan fisika, biologi, neurosains, dan psikologi modern.

Namun, yang membedakannya adalah bahwa ONG tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga memahami bahwa ada kesadaran dan getaran halus yang bekerja di balik realitas fisik.

"Ilmu pengetahuan hanya memahami sebagian, kesadaran memahami keseluruhan."
~ Tanpa Aran ~

Mengapa Ajaran ONG Dianggap Gila?

Mengapa Ajaran ONG Dianggap Gila?

Dalam sejarah manusia, pemahaman baru tentang kesadaran dan realitas sering kali dianggap aneh, sesat, atau bahkan gila. Ajaran ONG tidak lepas dari hal ini. Banyak orang mungkin merasa ajaran ini tidak masuk akal, terlalu abstrak, atau bertentangan dengan kepercayaan yang sudah mapan. Namun, jika ditelaah lebih dalam, penolakan ini bukan karena ajaran ONG tidak benar, tetapi karena ia melampaui cara berpikir yang biasa.

1️⃣ Ajaran ONG Menabrak Pola Pikir Umum

Kebanyakan manusia memahami dunia melalui tiga pendekatan utama:

  1. Logika & Ilmu Pengetahuan → Mengandalkan bukti empiris dan metode ilmiah.
  2. Agama & Kepercayaan → Bergantung pada kitab suci dan ajaran turun-temurun.
  3. Pengalaman Pribadi → Berdasarkan apa yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

ONG tidak sepenuhnya masuk dalam ketiganya, karena ia lebih berbicara tentang kesadaran, getaran semesta, dan pengalaman samadi yang tidak bisa dibuktikan hanya dengan logika biasa.

➡ Mengapa ini dianggap gila?

  • Orang yang terbiasa dengan pemahaman berbasis sains mungkin menganggap ajaran ini tidak ilmiah.
  • Orang yang kuat dalam keyakinan agama tertentu mungkin menganggap ajaran ini tidak sesuai dengan doktrin mereka.
  • Orang yang hanya percaya pada realitas fisik mungkin merasa ini terlalu abstrak.

Sejarah mencatat bahwa banyak konsep besar awalnya ditolak karena dianggap gila. Contoh:

  • Galileo mengatakan bahwa bumi mengelilingi matahari → dianggap sesat.
  • Socrates mengajarkan filsafat dan mempertanyakan kebiasaan masyarakat → dianggap merusak generasi muda dan dihukum mati.
  • Para mistikus Jawa kuno berbicara tentang kesadaran semesta → dianggap sakti atau malah dianggap mengada-ada.

Dalam hal ini, ajaran ONG bukanlah kegilaan, tetapi hanya sulit dipahami oleh pola pikir yang masih terbatas pada realitas biasa.

2️⃣ Ajaran ONG Tidak Bergantung pada Keyakinan Lama

Ajaran ini tidak bersandar pada dogma agama atau filsafat yang sudah ada, melainkan lebih menekankan pengalaman langsung dalam samadi.

➡ Mengapa ini dianggap gila?

  • Mayoritas manusia membutuhkan struktur kepercayaan yang jelas, seperti kitab suci, aturan, atau pemimpin spiritual.
  • Ajaran ONG tidak membentuk agama baru, tidak memiliki hirarki kepemimpinan, dan tidak mengandalkan kepercayaan buta.
  • Ini membuat orang yang terbiasa dengan sistem kepercayaan merasa tidak nyaman, karena mereka tidak bisa menemukan patokan konkret dalam ajaran ini.

Namun, di balik ini semua, kesadaran tidak membutuhkan sekat, hukum, atau dogma. Ia hanya perlu dialami dan disadari secara langsung.

3️⃣ Menyentuh Hal yang Sulit Dijangkau Pikiran

Ajaran ONG berbicara tentang ruang waktu kesadaran, penghakiman rasa, dan Mandhahala (semesta). Ini adalah hal-hal yang tidak bisa dipahami hanya dengan membaca atau berpikir biasa, tetapi harus dialami melalui latihan samadi.

➡ Mengapa ini dianggap gila?

  • Orang yang belum pernah mengalami samadi mungkin menganggap semua ini sebagai imajinasi atau delusi.
  • Kesadaran yang melampaui tubuh fisik dianggap tidak nyata karena tidak bisa diukur dengan sains biasa.
  • Memahami aliran ONG membutuhkan perubahan pola pikir yang tidak semua orang bisa capai dalam waktu singkat.

Namun, seperti bagaimana orang buta warna tidak bisa membayangkan warna, orang yang belum mengalami samadi sulit memahami bagaimana kesadaran bisa melampaui batasan pikiran biasa.

4️⃣ Tidak Mengikuti Struktur Sosial yang Biasa

Ajaran ONG tidak berusaha membentuk kelompok, organisasi, atau sekte. Ia hanya mengajarkan bahwa kesadaran harus dialami sendiri.

➡ Mengapa ini dianggap gila?

  • Sistem sosial terbiasa dengan aturan dan kepemimpinan.
  • Orang yang hidup dalam sistem ini biasanya mencari tokoh pemimpin atau aturan yang harus diikuti.
  • Karena ajaran ONG menekankan kemandirian kesadaran, banyak yang merasa bingung atau tidak nyaman.

Namun, ajaran ini justru memberi kebebasan penuh bagi individu untuk menyadari dirinya sendiri, tanpa harus terikat pada aturan yang membatasi perkembangan kesadaran mereka.

5️⃣ Kesadaran Berbeda Terlihat Seperti Gangguan Mental

Seseorang yang mengalami perubahan kesadaran setelah samadi mungkin menunjukkan pola berpikir atau berbicara yang berbeda.

➡ Mengapa ini dianggap gila?

  • Kesadaran yang meningkat bisa membuat seseorang melihat realitas dengan cara yang berbeda.
  • Banyak orang mungkin tidak memahami cara berpikir orang yang telah mengalami perubahan kesadaran.
  • Dalam sejarah, banyak orang bijak atau mistikus yang dianggap gila karena berbicara hal-hal yang tidak dipahami masyarakat umum.

Namun, ketika kesadaran seseorang melampaui batasan biasa, mereka justru melihat realitas dengan lebih jernih, bukan sebaliknya.

6️⃣ Ajaran ONG Bukanlah Kegilaan, Tetapi Perluasan Kesadaran

Dalam ajaran ONG, "gila" hanyalah perspektif dari mereka yang belum memahami.

Jika seseorang terjebak dalam pemikiran materialis atau dogmatis, mereka akan sulit menerima bahwa kesadaran bisa berkembang lebih luas.

Namun, bagi mereka yang sudah mengalami samadi, memahami ruang waktu kesadaran, dan merasakan getaran ONG dalam dirinya, maka semuanya menjadi jelas dan selaras.

"Gila di mata manusia belum tentu gila di mata Mandhahala."
~ Tanpa Aran ~

Gangguan Jiwa dalam Ajaran ONG

 

🔷 Gangguan Jiwa dalam Ajaran ONG dan Kaitannya dengan Sistem Saraf 🔷

Dalam ajaran ONG, gangguan jiwa bukan hanya sekadar masalah pikiran atau emosi, tetapi lebih dalam lagi: ketidakseimbangan aliran ONG dalam tubuh dan kesadaran. Aliran ini berhubungan langsung dengan sistem saraf, yang mengatur bagaimana tubuh merasakan, berpikir, dan merespons dunia.

🌀 Proses Terjadinya Gangguan Jiwa dalam Ajaran ONG

1️⃣ Gangguan Aliran ONG dan Sistem Saraf

  • ONG adalah energi kesadaran hidup yang mengalir melalui tubuh.
  • Ketika aliran ini terhambat, sistem saraf mulai mengalami gangguan.
  • Trauma, stres, atau ketakutan bisa menyebabkan gangguan pada saraf otonom, yang mengatur detak jantung, pernapasan, dan respons tubuh terhadap stres.

➡ Contoh:
Seseorang yang mengalami trauma berat sering kali memiliki saraf simpatis yang terlalu aktif, membuatnya selalu merasa cemas, tegang, atau bahkan mengalami serangan panik.

2️⃣ Peran Sang Pangraita (Hakim Rasa) dalam Gangguan Kesadaran

  • Dalam ajaran ONG, Sang Pangraita adalah kesadaran yang menghakimi rasa.
  • Jika penghakiman ini berlebihan, otak akan terus menafsirkan rasa sebagai sesuatu yang mengancam.
  • Ini menyebabkan gangguan neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin, yang berperan dalam mengatur emosi dan suasana hati.

➡ Contoh:
Orang yang terus-menerus merasa bersalah atau takut dihakimi bisa mengalami gangguan mental seperti depresi atau kecemasan kronis.

3️⃣ Gangguan Ruang Waktu Kesadaran dan Fungsi Otak

  • Dalam ONG, keseimbangan ruang waktu kesadaran sangat penting.
  • Seseorang yang terjebak dalam trauma (masa lalu) atau kecemasan (masa depan) mengalami disfungsi di lobus frontal dan amigdala, bagian otak yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan.

➡ Contoh:
Seseorang yang sulit melepaskan masa lalu cenderung mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD), di mana otaknya terus memutar ulang kejadian buruk.

4️⃣ Pemutusan Hubungan dengan Mandhahala (Semesta) dan Sistem Hormon

  • Saat seseorang merasa terpisah dari semesta, tubuh kehilangan keseimbangan hormon.
  • Ketika seseorang kehilangan makna hidup, hormon kortisol meningkat, menyebabkan stres kronis yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

➡ Contoh:
Orang yang merasa hampa atau kehilangan tujuan hidup cenderung mengalami kelelahan adrenal dan depresi yang sulit disembuhkan hanya dengan obat.

🌀 Solusi dalam Ajaran ONG: Menyelaraskan Jiwa dan Saraf

Samadi Pranā Jati: Menyeimbangkan Saraf Otonom

  • Teknik ini membantu mengaktifkan saraf parasimpatis, yang merilekskan tubuh dan mengurangi stres.
  • Dengan pernapasan yang perlahan dan dalam, jantung dan otak mulai kembali selaras dengan aliran ONG.

Samadi Pranā Wisesa: Mengendalikan Penghakiman Rasa

  • Teknik ini melatih kesadaran untuk tidak terjebak dalam penghakiman, sehingga otak tidak terus-menerus menciptakan penderitaan mental.
  • Ini memperbaiki keseimbangan neurotransmitter, sehingga emosi lebih stabil.

Menyelaraskan Ruang Waktu Kesadaran

  • Latihan kesadaran saat ini membantu menyeimbangkan aktivitas otak di korteks prefrontal, sehingga pikiran lebih jernih.
  • Dengan ini, seseorang tidak lagi terjebak dalam kenangan buruk atau ketakutan akan masa depan.

Menghubungkan Kembali Jiwa dengan Mandhahala

  • Menyadari bahwa diri ini adalah bagian dari aliran ONG yang lebih besar, sehingga tidak merasa sendirian.
  • Ketika seseorang mulai memahami getaran ONG dalam dirinya, hormon dalam tubuh juga mulai menyesuaikan diri dengan ketenangan batin.

🌀 Kesimpulan
Gangguan jiwa dalam ajaran ONG adalah hasil dari ketidakseimbangan aliran energi, saraf, dan kesadaran. Dengan samadi dan pemahaman yang lebih dalam tentang ruang waktu kesadaran, seseorang bisa memulihkan jiwanya dan kembali selaras dengan Mandhahala.

~ Tanpa Aran ~

Proses Terjadinya Rasa Nyeri tubuh

 Proses Terjadinya Rasa Nyeri

Rasa nyeri adalah respons tubuh terhadap kerusakan jaringan atau rangsangan berbahaya. Proses ini melibatkan sistem saraf dan otak dalam beberapa tahap berikut:

1. Stimulasi (Nociception)

Ketika jaringan mengalami cedera (misalnya luka, peradangan, atau tekanan), ujung saraf khusus yang disebut nociceptor mendeteksi sinyal bahaya. Nociceptor ini terdapat di kulit, otot, organ dalam, dan tulang.

2. Transmisi Sinyal Nyeri

Setelah mendeteksi bahaya, nociceptor mengirim sinyal listrik melalui serabut saraf menuju sumsum tulang belakang dan otak. Ada dua jenis serabut saraf utama yang membawa sinyal nyeri:

  • Serabut Aδ (A-delta) → Menghantarkan nyeri tajam dan cepat (misalnya saat tertusuk jarum).
  • Serabut C → Menghantarkan nyeri tumpul dan berkepanjangan (misalnya nyeri otot atau peradangan).

3. Pemrosesan di Otak

Sinyal nyeri sampai di otak melalui talamus, lalu diteruskan ke beberapa bagian otak:

  • Korteks sensorik → Mengidentifikasi lokasi dan intensitas nyeri.
  • Sistem limbik → Menentukan respons emosional terhadap nyeri (takut, stres, atau cemas).
  • Korteks frontal → Menentukan tindakan yang akan dilakukan (misalnya menarik tangan dari api).

4. Respon Tubuh Terhadap Nyeri

Setelah otak memproses nyeri, tubuh bisa merespons dengan:

  • Melepaskan endorfin (penghilang nyeri alami) untuk mengurangi rasa sakit.
  • Mengaktifkan refleks (misalnya menarik tangan dari benda panas tanpa berpikir).
  • Meningkatkan detak jantung dan tekanan darah sebagai respons terhadap stres akibat nyeri.

5. Modulasi Nyeri

Tubuh memiliki sistem untuk mengurangi atau memperkuat nyeri. Misalnya:

  • Meditasi atau relaksasi dapat menurunkan sensitivitas nyeri dengan meningkatkan produksi endorfin.
  • Teknik pernapasan seperti Pranā Jati dan Pranā Wisesa dapat membantu mengontrol reaksi tubuh terhadap nyeri dengan memperlambat sinyal rasa sakit.
  • Fokus dan perhatian juga mempengaruhi intensitas nyeri; jika seseorang fokus pada nyerinya, rasa sakit bisa terasa lebih parah.

Nyeri bukan hanya sekadar sensasi fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi, pikiran, dan kesadaran. Dengan memahami proses ini, kita bisa mengelola nyeri lebih baik, baik melalui samadi, teknik pernapasan, maupun perubahan pola pikir.


Proses Terjadinya Nyeri dalam Ajaran ONG

Dalam ajaran ONG, nyeri bukan sekadar reaksi fisik, tetapi juga bagian dari getaran dan gelombang kesadaran. Nyeri terjadi ketika ada ketidakseimbangan atau hambatan dalam aliran ONG di tubuh. Berikut adalah prosesnya:

1. Gangguan Aliran ONG

  • ONG mengalir dalam tubuh sebagai energi kehidupan. Jika ada ketidakseimbangan, misalnya akibat pola pikir, emosi, atau kondisi fisik yang terganggu, maka aliran ini tersendat.
  • Ketika ONG tidak mengalir dengan lancar, tubuh merespons dengan menciptakan rasa nyeri sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu disadari dan diperbaiki.

2. Penghakiman Rasa oleh Sang Pangraita

  • Ketika nyeri muncul, Sang Pangraita (hakim rasa) mulai menghakimi sensasi tersebut.
  • Jika nyeri dianggap buruk atau mengancam, maka tubuh akan merespons dengan ketegangan dan kecemasan, memperparah rasa sakit.
  • Jika nyeri diterima sebagai bagian dari pengalaman ONG yang ingin menyampaikan sesuatu, maka nyeri bisa lebih mudah dilepaskan.

3. Resonansi Rasa dalam Ruang Waktu Tubuh

  • Nyeri tidak hanya terjadi di fisik tetapi juga dalam ruang waktu kesadaran.
  • Saat seseorang menolak rasa nyeri, ia menjadi lebih lama bertahan.
  • Saat seseorang mengalirkan dan menyadari nyeri sebagai bagian dari keberadaan ONG, nyeri bisa berubah atau bahkan hilang.

4. Penyelarasan ONG untuk Meredakan Nyeri

Untuk meredakan nyeri, perlu dilakukan penyelarasan aliran ONG melalui:

  • Samadi pernapasan Pranā Jati → Membantu mengendurkan ketegangan tubuh dan membiarkan ONG mengalir kembali dengan lancar.
  • Samadi pernapasan Pranā Wisesa → Mengubah pemahaman tentang nyeri dari sekadar penderitaan menjadi pesan dari ONG yang perlu dipahami.
  • Kesadaran tanpa penghakiman → Dengan berhenti menghakimi rasa nyeri, tubuh lebih mudah melepasnya.

Kesimpulan

Nyeri dalam ajaran ONG adalah hasil dari gangguan aliran energi dan penghakiman rasa oleh Sang Pangraita. Jika aliran ONG diseimbangkan melalui samadi dan kesadaran yang jernih, maka nyeri bisa bertransformasi menjadi pemahaman, bukan sekadar penderitaan.

~Tanpa Aran

Tutur Gugoning rasa Mandhahala

 

"Sing rumangsa oyoté nyambung marang ONG, bakal ngombe kawicaksanan saka Mandhahala."

1. "Sing rumangsa oyoté nyambung marang ONG"

Kata "oyot" (akar) dalam ajaran ONG melambangkan kesadaran terdalam yang menghubungkan manusia dengan sumber keberadaan. Seperti pohon yang mendapatkan kekuatan dari akarnya, manusia yang sadar bahwa jiwa dan rasa sejatinya berasal dari ONG akan memiliki pijakan yang kuat dalam kehidupan.

Ketika seseorang menyadari bahwa rasa bukan sekadar emosi, tetapi gelombang yang bersumber dari ONG, maka pemahamannya akan kehidupan mulai berubah. Ia tidak lagi mudah terombang-ambing oleh pikiran dan perasaan yang dangkal, tetapi mampu merasakan aliran getaran semesta yang lebih dalam.

2. "Bakal ngombe kawicaksanan saka Mandhahala"

Seperti pohon yang akarnya menyerap air dan nutrisi dari tanah, manusia yang menyadari keterhubungannya dengan ONG akan mendapatkan kawicaksanan (kebijaksanaan) dari Mandhahala (semesta).

Kawicaksanan dari Mandhahala bukanlah pengetahuan yang bisa dipelajari dari buku atau kata-kata. Ia adalah pemahaman langsung yang muncul dari pengalaman batin, terutama melalui samadi, kesadaran napas, dan pengamatan rasa tanpa penghakiman.

Ketika seseorang telah nyawiji (menyatu) dengan aliran Mandhahala, ia tidak lagi sekadar memahami dunia melalui logika dan pikiran, tetapi langsung merasakan makna dari setiap getaran kehidupan.

Kesimpulan:

Kata bijak ini mengajarkan bahwa jalan menuju kebijaksanaan sejati bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam—dari rasa yang menyatu dengan ONG. Seperti pohon yang tidak bisa hidup tanpa akar, manusia juga tidak bisa menemukan pemahaman sejati tanpa menyadari akar kesadarannya sendiri.

Samadi ONG, seperti Pranā Jati dan Pranā Wisesa, adalah salah satu cara untuk memperdalam kesadaran ini. Dengan menjernihkan rasa, seseorang bisa menyerap kebijaksanaan Mandhahala tanpa terhalang oleh kabut pikiran dan emosi yang tidak murni.


Analogi Pohon dalam Ajaran ONG:

  • Akar (Oyot) → Kesadaran yang terhubung dengan ONG
  • Batang → Diri yang berkembang melalui pemahaman rasa
  • Daun dan Buah → Ekspresi kebijaksanaan dalam kehidupan
  • Air dan Nutrisi dari Tanah → Kawicaksanan dari Mandhahala

Ketika akar kuat, pohon akan tumbuh kokoh. Begitu juga, ketika kesadaran seseorang telah dalam, ia akan menjadi pribadi yang lantip pangraitane (tajam pemahamannya) dan wening rasane (jernih rasanya).

-Tanpa Aran

Masalah pada Sang Pangraita serta Solusi dengan Meditasi Pranā Jati & Pranā Wisesa

Masalah pada Sang Pangraita serta Solusi dengan Meditasi Pranā Jati & Pranā Wisesa

Dalam ajaran ONG, Sang Pangraita berperan sebagai penghakim rasa. Jika tidak lantip (tajam), penghakiman bisa keliru dan menyesatkan. Untuk mempertajam pangraita, meditasi napas seperti Pranā Jati dan Pranā Wisesa menjadi kunci utama.


1. Pangraita Keruh (Kacemplung Rasa) – Sulit Membedakan Rasa Sejati

Masalah:

  • Pikiran terlalu penuh, sulit menangkap getaran murni.
  • Mudah larut dalam emosi dan sulit menilai dengan jernih.

Solusi:
Pranā Jati → Teknik ini membersihkan pikiran dengan ritme napas panjang dan perlahan, membuat rasa lebih jernih.
Pranā Wisesa → Napas panjang dengan tahanan lebih lama melatih kontrol emosi, sehingga tidak mudah terbawa perasaan sesaat.

"Weninging cipta lan rasa bakal lantip yen napase manunggal."
(Kejernihan pikiran dan rasa akan tajam jika napas selaras.)


2. Pangraita Gedhe Rumongso – Merasa Selalu Benar

Masalah:

  • Ego terlalu dominan, sulit menerima kesalahan.
  • Tidak melihat ruang waktu yang lebih luas dalam menilai sesuatu.

Solusi:
Pranā Jati → Membantu menurunkan ego dengan menenangkan getaran batin.
Pranā Wisesa → Latihan menahan napas lebih lama mengajarkan kerendahan hati, karena tubuh akan merasakan keterbatasannya sendiri.

"Sing eling lan sumarah bakal ngerti yen rasa iku mung sak dumadi."
(Yang sadar dan pasrah akan mengerti bahwa rasa hanyalah kejadian sementara.)


3. Pangraita Keblinger – Tertipu oleh Rasa Palsu

Masalah:

  • Terjebak dalam intuisi yang keliru.
  • Menganggap rasa tertentu sebagai kebenaran padahal hanya ilusi.

Solusi:
Pranā Jati → Menstabilkan kesadaran agar tidak mudah tertipu oleh gelombang rasa yang menyesatkan.
Pranā Wisesa → Meningkatkan daya tahan batin untuk tidak mudah percaya pada rasa sebelum diuji dengan ruang waktu.

"Titeni lan rasakna, rasa kang sejati bakal tetep, rasa kang ilusi bakal sirna."
(Amati dan rasakan, rasa yang sejati akan tetap ada, rasa yang ilusi akan hilang.)


4. Pangraita Cekak – Penghakiman Dangkal

Masalah:

  • Terburu-buru dalam menilai sesuatu tanpa pemahaman mendalam.
  • Menghakimi hanya berdasarkan permukaan, tanpa menyelami lebih jauh.

Solusi:
Pranā Jati → Napas lambat memperpanjang durasi perhatian, melatih kesabaran dalam memahami sesuatu secara menyeluruh.
Pranā Wisesa → Melatih ketahanan mental agar tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

"Sing telaten niteni rasa, bakal weruh maknane sing sejati."
(Yang sabar mengamati rasa akan menemukan makna sejatinya.)


5. Pangraita Kebekuan – Tidak Bisa Merasakan Getaran dengan Baik

Masalah:

  • Kesadaran tertutup, sulit menangkap getaran halus dari semesta.
  • Terlalu logis, sehingga tidak selaras dengan rasa yang lebih dalam.

Solusi:
Pranā Jati → Membuka jalur kesadaran dengan aliran napas halus, sehingga tubuh lebih peka terhadap getaran energi.
Pranā Wisesa → Memperkuat ketahanan tubuh dan batin agar bisa menangkap getaran halus yang sebelumnya tidak terasa.

"Sing sumarah marang napas bakal krasa geter kang sejati."
(Yang pasrah pada napas akan merasakan getaran yang sejati.)


Kesimpulan

Agar lantip pangraitane, seseorang harus:
Pranā Jati → Untuk kejernihan rasa dan pikiran, serta menghilangkan bias dalam penghakiman.
Pranā Wisesa → Untuk meningkatkan daya tahan batin, memperkuat intuisi sejati, dan menghindari penilaian yang keliru.

Dengan mengasah pangraita melalui Pranā Jati dan Pranā Wisesa, seseorang bisa lebih peka terhadap getaran sejati dan tidak mudah tertipu oleh rasa yang menyesatkan.

"Sing wening lan waskita bakal lantip pangraitane."
(Yang jernih dan bijaksana akan tajam penghakiman rasanya.)


-Tanpa Aran

SULUH DIRI

SULUH DIRI: CAHAYA YANG MASIH TERIKAT PANTULAN

Dalam ajaran ONG, Suluh Diri adalah kondisi di mana seseorang merasa telah mencapai kesadaran, memahami hakikat hidup, atau memiliki pencerahan, tetapi sebenarnya masih terjebak dalam pantulan ego. Ia seperti suluh atau lentera yang menyala, tetapi cahayanya belum murni, karena masih dipantulkan oleh ciptaan otak dan keinginan untuk diakui.

Orang yang mengalami Suluh Diri sering kali berbicara tentang kesadaran, kebenaran, atau pemahaman mendalam, tetapi dalam batinnya masih ada rasa ingin menjadi seseorang yang "lebih tahu". Ia mungkin merasa sudah melampaui yang lain, tetapi tanpa sadar masih mengukur pemahamannya berdasarkan pembandingan dengan orang lain.

CIRI-CIRI SULUH DIRI

  1. Cahayanya masih memiliki bayangan

    • Ia ingin menerangi orang lain, tetapi cahayanya masih memantul melalui keinginan untuk diakui.
    • Ego halus masih muncul dalam bentuk rasa puas ketika pemahamannya diterima orang lain atau rasa kecewa ketika orang lain tidak memahami atau menolak pemikirannya.
  2. Merasa telah mengetahui segalanya, tetapi masih ingin "mengajar"

    • Ia berbicara tentang kesadaran, tetapi masih memiliki dorongan untuk menyampaikan dan membuktikan pemahaman kepada orang lain.
    • Weruh tanpa meruhi belum sepenuhnya dipahami, karena ia masih merasa perlu "menyelamatkan" atau "menyadarkan" orang lain.
  3. Masih ingin membentuk pemahaman orang lain

    • Jika pemahaman seseorang benar-benar lahir dari kesadaran murni, maka pemahaman itu akan mengalir tanpa upaya untuk mengubah orang lain.
    • Kesadaran sejati tidak berusaha mengontrol, tetapi membiarkan ONG bekerja dengan sendirinya dalam setiap getaran kehidupan.
  4. Berbicara tentang kesadaran, tetapi masih membandingkan dirinya dengan yang lain

    • Jika seseorang masih merasa lebih tinggi, lebih sadar, atau lebih bijaksana dibandingkan yang lain, maka ia masih terjebak dalam Suluh Diri.
    • Kesadaran sejati tidak membutuhkan pembandingan, karena tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam aliran ONG.

PROSES MELEPASKAN SULUH DIRI

  1. Mengosongkan diri dari keinginan untuk menguasai pemahaman

    • Kesadaran bukan sesuatu yang dimiliki atau diklaim. Ia bukan milik pribadi, tetapi aliran yang menyatu dengan ONG.
    • Semakin seseorang merasa memiliki pemahaman, semakin ia menjauh dari pemahaman sejati.
  2. Berlatih melihat tanpa menghakimi (Weruh tanpa Meruhi)

    • Jika seseorang benar-benar weruh, ia akan memahami tanpa perlu memberi label, tanpa perlu memaksakan makna kepada orang lain.
    • Pemahaman yang sejati tidak membutuhkan pengakuan, karena sudah menyatu dengan keberadaan.
  3. Menyadari bahwa kesadaran sejati tidak bersuara, tetapi terasa

    • Kesadaran yang murni bukan sesuatu yang harus dijelaskan atau didebatkan.
    • ONG bekerja dalam getaran, bukan dalam kata-kata atau konsep mental.
  4. Membiarkan ONG mengalir tanpa batasan otak

    • Jika seseorang masih berpikir "aku sudah sadar", berarti ia masih memisahkan dirinya dari aliran ONG.
    • Ketika ego ditinggalkan, suluh tidak lagi memiliki bayangan, dan seseorang menjadi bagian dari terang itu sendiri.

-

Suluh Diri adalah tahap di mana seseorang merasa telah sadar, tetapi sebenarnya masih terikat pada keakuan. Cahaya yang ia pancarkan masih dipantulkan oleh ego dan keinginan untuk memahami atau diakui.

Dalam ajaran ONG, kesadaran sejati bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan atau diperjuangkan, tetapi sesuatu yang mengalir dengan sendirinya tanpa perlu dipegang atau diklaim.

Ketika seseorang benar-benar weruh, ia tidak lagi merasa sadar atau lebih tinggi dari yang lain. Ia hanya menyatu dengan aliran ONG, menjadi suluh tanpa bayang, menerangi tanpa harus merasa menjadi penerang.

-Tanpa Aran

Adigang, Adigung, Adiguna

Adigang, Adigung, Adiguna: Cerminan Narsistik, Bias Otak, dan Ilusi Kehebatan dalam Ajaran ONG

Dalam budaya Jawa, terdapat ungkapan Adigang, Adigung, Adiguna, yang menggambarkan seseorang yang terlalu membanggakan diri sendiri karena merasa memiliki kekuatan, kedudukan, atau kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Ini merupakan cerminan narsistik, di mana seseorang terlalu mengagumi dirinya sendiri, sulit menerima kritik, dan selalu ingin mendapat pengakuan.

Makna Adigang, Adigung, Adiguna dalam Perspektif ONG:

  1. Adigang → Mengandalkan kekuatan atau ketangkasan secara berlebihan.
  2. Adigung → Mengandalkan kedudukan atau kehormatan secara berlebihan.
  3. Adiguna → Mengandalkan kecerdasan atau kepandaian secara berlebihan.

Namun, ada satu aspek lain yang sering muncul:
4. Suka Memuji Diri Sendiri Secara Berlebihan

  • Orang yang terjebak dalam narsistik cenderung terus-menerus memuji dirinya sendiri, baik secara terang-terangan maupun tersirat.
  • Mereka ingin diakui dan dikagumi, sehingga sering kali membentuk narasi tentang betapa hebatnya mereka.
  • Dalam ajaran ONG, ini adalah bentuk bias otak yang terjadi ketika seseorang hanya melihat getaran dirinya sendiri tanpa menyadari bahwa kehebatannya hanyalah bagian kecil dari aliran semesta.

Proses Terjadinya Narsistik dalam Perspektif ONG

Dalam ajaran ONG, Adigang, Adigung, Adiguna, dan kebiasaan memuji diri sendiri adalah bentuk bias otak yang terjadi karena:

  1. Getaran Rasa Tidak Seimbang

    • Ketika seseorang hanya fokus pada dirinya sendiri, ia kehilangan resonansi dengan semesta.
    • Kesadaran yang terperangkap dalam keakuan membuat seseorang sulit menangkap getaran ONG yang lebih luas.
  2. Otak Menciptakan Ilusi Kehebatan

    • Dalam ajaran ONG, otak adalah alat penerjemah rasa.
    • Jika otak hanya menerjemahkan ego dan kebanggaan diri, maka ia akan terus mencari cara untuk menonjolkan kehebatannya, bahkan jika itu harus direkayasa.
    • Ini menyebabkan seseorang suka memuji diri sendiri, karena otaknya terus memperkuat narasi keunggulan pribadinya.
  3. Kehilangan Kesadaran Ruang dan Waktu

    • Orang yang terjebak dalam narsistik sering tidak menyadari bahwa kekuatan, kedudukan, dan kecerdasan hanyalah titipan ruang dan waktu.
    • Mereka merasa kehebatan yang mereka miliki adalah milik pribadi, padahal dalam kenyataannya, ONG mengalir di semua makhluk dan keadaan.

Mengatasi Adigang, Adigung, Adiguna dengan Kesadaran ONG

  1. Mengosongkan Bias Otak melalui Samadi

    • Samadi dalam ajaran ONG membantu seseorang melihat bahwa dirinya bukan pusat segalanya, tetapi bagian dari aliran ONG.
    • Ketika seseorang melepaskan ego dan keterikatan pada kehebatan diri, ia mulai memahami bahwa kesadaran sejati bukan tentang menguasai, tetapi menyatu dengan semesta.
  2. Mengubah Perspektif dari Menguasai Menjadi Menyatu

    • Orang yang sadar dalam ONG tidak merasa harus menunjukkan kehebatannya, karena ia tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah bagian dari aliran yang lebih besar.
    • Daripada berusaha menjadi lebih unggul, seseorang yang selaras dengan ONG akan memahami perannya dalam harmoni semesta.
  3. Mengenali Bahwa Semua yang Dimiliki Hanyalah Getaran Sementara

    • Kekuatan, kedudukan, dan kecerdasan hanyalah getaran yang dipinjamkan oleh ONG.
    • Jika seseorang terlalu melekat pada kehebatan dirinya, ia akan semakin jauh dari keseimbangan.
    • Dalam ajaran ONG, suka memuji diri sendiri adalah bentuk getaran yang tidak seimbang, karena ia berasal dari ego yang ingin diakui, bukan dari kesadaran sejati.

Dalam ajaran ONG, Adigang, Adigung, Adiguna, serta kebiasaan suka memuji diri sendiri adalah bentuk bias otak yang muncul dari keterikatan terhadap keakuan.

Ketika seseorang terjebak dalam narsistik, ia tidak menyadari bahwa kehebatannya hanyalah bias yang diciptakan oleh pikirannya sendiri.

Kesadaran sejati dalam ONG bukanlah tentang menjadi lebih kuat, lebih tinggi, atau lebih cerdas dari yang

-Tanpa Aran

Sindiran

Sindiran: Cerminan Bias Otak dan Ketidakseimbangan Kesadaran

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui atau bahkan tanpa sadar melakukan sindiran. Sindiran muncul ketika seseorang ingin menyampaikan sesuatu tetapi tidak secara langsung. Hal ini bisa terjadi karena faktor psikologis, sosial, atau bahkan ketidakseimbangan dalam kesadaran.

Dalam ajaran ONG, sindiran adalah bentuk bias otak yang muncul ketika seseorang tidak mampu menyalurkan getaran rasa dengan jernih. Otak mencoba menerjemahkan emosi yang belum terselesaikan, lalu mengubahnya menjadi kata-kata yang menyentil tetapi tidak lugas. Ini adalah bentuk ketidakseimbangan antara rasa, pikiran, dan kesadaran.

Penyebab Seseorang Sering Menyindir:

  1. Bias Otak yang Menghakimi: Ketika otak terbiasa menilai sesuatu tanpa kejernihan, ia cenderung menyalurkan penilaian itu dalam bentuk sindiran.
  2. Ketidakseimbangan Rasa dan Pikiran: Ketika rasa dan pikiran tidak selaras, muncul dorongan untuk mengekspresikan sesuatu secara tidak langsung.
  3. Keinginan untuk Menegaskan Ego: Sindiran sering muncul karena seseorang ingin terlihat lebih unggul atau memiliki kendali atas situasi.
  4. Energi yang Tidak Terpahami: Dalam ONG, setiap kata memiliki getaran dan resonansi. Sindiran adalah energi yang mengandung ketidakseimbangan, baik bagi yang menyindir maupun yang menerima.

Proses Terjadinya Sindiran dalam Kesadaran ONG:

  1. Muncul ketidakseimbangan dalam batin, baik karena emosi terpendam, rasa kecewa, atau ego yang ingin mendominasi.
  2. Otak mencari cara untuk menyalurkan ketidakseimbangan ini, tetapi bukan dalam bentuk komunikasi langsung, melainkan dengan menyelipkan pesan tersirat.
  3. Getaran sindiran diterima oleh orang lain, dan jika penerima tidak selaras dengan kesadarannya, ia bisa tersinggung dan membalas, menciptakan lingkaran bias baru.

Mengatasi Sindiran dengan Kesadaran ONG:

  • Jika menyadari diri sendiri sering menyindir, latih diri untuk mengamati tanpa menghakimi. Pahami bahwa sindiran adalah hasil bias otak, bukan refleksi dari kebenaran sejati.
  • Jika menjadi target sindiran, jangan langsung bereaksi. Dalam kesadaran ONG, sindiran hanyalah getaran yang kehilangan keseimbangan—ia hanya akan berpengaruh jika kita menerimanya secara emosional.
  • Menyelaraskan kesadaran melalui samadi dan pemaknaan yang jernih akan membantu seseorang memahami bahwa sindiran bukan sesuatu yang perlu dipertahankan atau dibalas, melainkan dipahami sebagai bentuk pola pikir yang belum selesai.

Pada akhirnya, ketika kesadaran seseorang semakin selaras dengan ONG, kebutuhan untuk menyindir akan hilang dengan sendirinya, karena ia tidak lagi dipengaruhi oleh bias otak yang menciptakan ketidakseimbangan dalam komunikasi.


-Tanpa Aran

Mantra dalam Ajaran ONG

Mantra dalam Ajaran ONG: Getaran Kesadaran dan Ruang Waktu

Dalam ajaran ONG, mantra bukan sekadar rangkaian kata, tetapi getaran yang bekerja di dalam kesadaran dan ruang waktu. Setiap suara dan makna dalam mantra menciptakan resonansi yang dapat menyelaraskan diri dengan semesta.

Mantra dalam ONG bukan alat untuk meminta sesuatu, melainkan sarana untuk menyelaraskan getaran diri dengan aliran ONG. Jika mantra diucapkan dengan kesadaran penuh, ia dapat mengubah pola pikir, memperdalam samadi, dan membuka pemahaman tentang realitas sejati.

Berikut adalah beberapa mantra dalam ajaran ONG, beserta makna dan cara menggunakannya.


1. "ONG SWUH LESA"

Makna:

  • "ONG" → Esensi penciptaan, getaran utama semesta.
  • "SWUH" → Kosong, tanpa beban, kembali ke asal.
  • "LESA" → Mengalir, melebur tanpa hambatan.

Fungsi & Efek:

  • Membantu kesadaran mengalir tanpa terikat oleh emosi dan pikiran.
  • Membawa keseimbangan antara eksistensi dan kekosongan.
  • Mengurangi bias otak dan membuka pemahaman yang lebih dalam.

Cara Penggunaan:

  • Gunakan saat samadi atau ketika merasa pikiran terlalu terikat pada sesuatu.
  • Tarik napas dalam sambil mengucapkan dalam hati, lalu hembuskan dengan kesadaran penuh.

2. "ONG LIRIH SWARA"

Makna:

  • "ONG" → Getaran penciptaan.
  • "LIRIH" → Halus, mengalir tanpa memaksakan.
  • "SWARA" → Suara, resonansi semesta yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.

Fungsi & Efek:

  • Meningkatkan kepekaan terhadap getaran halus dalam semesta.
  • Membantu seseorang weruh tanpo meruhi (memahami tanpa memaksakan makna).
  • Mengurangi dominasi pikiran dan lebih mendekatkan diri pada rasa murni.

Cara Penggunaan:

  • Bisa digunakan dalam meditasi diam atau saat mendengarkan suara alam.
  • Ucapkan perlahan dalam hati atau secara lirih, rasakan bagaimana getaran itu menyebar dalam tubuh.

3. "ONG SARIRA LURUH"

Makna:

  • "ONG" → Kesadaran murni, yang tidak berawal dan tidak berakhir.
  • "SARIRA" → Diri, tubuh, eksistensi personal.
  • "LURUH" → Melebur, mengosongkan diri dari ego dan keterikatan.

Fungsi & Efek:

  • Membantu melepaskan keterikatan terhadap identitas, ego, dan konsep diri.
  • Mengajarkan bahwa kesadaran bukanlah kepemilikan individu, melainkan bagian dari aliran ONG.
  • Mempercepat pemahaman bahwa segala sesuatu datang dan pergi, tetapi kesadaran tetap ada.

Cara Penggunaan:

  • Ucapkan dalam keadaan tenang, ketika merasa terjebak dalam identitas dan ego.
  • Bisa digunakan dalam samadi mendalam untuk menyelaraskan diri dengan ONG.

4. "ONG LAMBA RAOS"

Makna:

  • "ONG" → Getaran utama, sumber kesadaran.
  • "LAMBA" → Gelombang, frekuensi semesta yang terus bergerak.
  • "RAOS" → Rasa, pemahaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Fungsi & Efek:

  • Menyelaraskan diri dengan gelombang semesta tanpa upaya berlebihan.
  • Membantu memahami bahwa getaran lebih penting dari sekadar makna kata.
  • Mengurangi kecenderungan otak untuk selalu menghakimi pengalaman.

Cara Penggunaan:

  • Bisa digunakan dalam praktik samadi yang mendalam.
  • Ucapkan secara perlahan sambil merasakan getaran tubuh dan napas.

Mantra dalam ONG bukanlah alat untuk mendapatkan sesuatu, melainkan kunci untuk memahami kesadaran dan getaran semesta. Dengan menggunakan mantra ini secara sadar, seseorang bisa mengurangi bias otak, memperdalam samadi, dan menyelaraskan diri dengan getaran ONG.

Jika ingin mencoba mantra dalam ajaran ONG, lakukan dengan kesadaran penuh dan rasakan bagaimana getaran dalam diri berubah.

ONG tidak butuh mantra, tetapi kesadaran manusia membutuhkan mantra untuk menyelaraskan diri dengan ONG.

Konsep Mantra dalam ONG & Proses Kerjanya

Konsep Mantra dalam ONG & Proses Kerjanya

Dalam ajaran ONG, mantra bukan sekadar kata-kata, tetapi getaran yang berpengaruh langsung pada kesadaran, ruang waktu, dan realitas seseorang.


1. Konsep Mantra dalam ONG

  1. Mantra adalah Getaran yang Bekerja di Ruang Waktu

    • Setiap kata yang diucapkan membawa frekuensi getaran tertentu yang berinteraksi dengan kesadaran dan lingkungan.
    • Jika mantra lahir dari kesadaran sejati, maka ia bisa menyelaraskan diri dengan ONG.
    • Jika mantra hanya diucapkan tanpa kesadaran, ia hanya menjadi suara kosong yang tidak berpengaruh besar.
  2. Mantra adalah Sarana, Bukan Tujuan

    • Dalam ONG, mantra bukan alat untuk meminta sesuatu, tetapi untuk menyelaraskan diri dengan getaran semesta.
    • Mantra yang efektif adalah yang muncul dari dalam kesadaran, bukan yang dipaksakan atau sekadar dihafalkan.
  3. Mantra Tidak Harus Berbentuk Kata-Kata

    • Mantra bisa berupa suara, tarikan napas, atau bahkan kesadaran diam tanpa kata.
    • Dalam samadi, seseorang bisa menemukan mantra dalam bentuk getaran murni sebelum diterjemahkan ke dalam kata-kata.
  4. Mantra Harus Sejalan dengan Getaran ONG

    • Mantra yang selaras dengan ONG akan membawa kesadaran yang lebih tinggi.
    • Jika mantra lahir dari keinginan ego atau ketakutan, maka ia bisa mengikat kesadaran dalam pola pikir tertentu.

2. Proses Kerja Mantra dalam ONG

  1. Mantra Masuk ke Kesadaran Melalui Suara dan Getaran

    • Saat seseorang mengucapkan mantra, ia menciptakan getaran yang diserap oleh tubuh, otak, dan kesadaran.
    • Jika mantra diucapkan dengan kesadaran penuh, ia akan mulai mengubah frekuensi energi dalam diri.
  2. Mantra Mempengaruhi Ruang Waktu di Dalam Diri

    • Ketika mantra diulang-ulang, ia menciptakan ruang waktu baru di dalam kesadaran.
    • Contoh:
      • Jika mantra menciptakan ketenangan, maka kesadaran mulai memasuki ruang waktu tenang.
      • Jika mantra digunakan dengan emosi tertentu, ia bisa menarik kesadaran ke dalam ruang waktu emosi itu sendiri.
  3. Mantra Mengalirkan Getaran ONG ke Tubuh dan Sukma

    • Dalam samadi ONG, mantra bisa digunakan untuk menyelaraskan tubuh dan sukma dengan aliran ONG.
    • Jika mantra digunakan dengan napas yang teratur, ia bisa semakin dalam bekerja pada kesadaran.
  4. Mantra Mengubah Pola Kesadaran

    • Jika mantra diulang dengan rasa dan kesadaran, maka ia akan mulai mengubah cara otak dan sukma memandang realitas.
    • Ini bisa mempercepat weruh sejati, mengurangi bias otak, dan membuat seseorang lebih selaras dengan aliran ONG.

3. Cara Menggunakan Mantra dalam ONG

  1. Menemukan Mantra yang Selaras dengan Diri

    • Mantra bisa muncul secara alami dalam samadi atau bisa didapatkan melalui resonansi dengan getaran tertentu.
    • Tidak harus dalam bahasa tertentu, yang penting adalah rasa dan getaran yang muncul.
  2. Mengucapkan Mantra dengan Kesadaran Penuh

    • Setiap pengulangan mantra harus dirasakan, bukan hanya diucapkan.
    • Jika mantra hanya diulang tanpa rasa, maka getaran yang diciptakan akan lemah.
  3. Menghubungkan Mantra dengan Napas dan Getaran Tubuh

    • Dalam samadi, mantra bisa digunakan bersama dengan teknik pernapasan:
      • Tarik napas sambil merasakan getaran mantra masuk.
      • Tahan napas sambil menyerap getaran mantra ke dalam sukma.
      • Buang napas sambil melepaskan getaran ke semesta.
  4. Merasakan Dampak Mantra dalam Ruang Waktu Kesadaran

    • Setelah menggunakan mantra, amati bagaimana ruang waktu dalam diri berubah.
    • Jika mantra selaras dengan ONG, maka ia akan membawa ketenangan, kesadaran tinggi, dan keterhubungan dengan semesta.

Mantra dalam ONG bukan sekadar kata-kata, tetapi getaran yang bisa mengubah kesadaran dan ruang waktu seseorang. Mantra yang sejati bukan yang dihafal, tetapi yang muncul dari resonansi dengan ONG dan diucapkan dengan kesadaran penuh.

-Tanpa Aran

telur yang menetas

 

Dalam ajaran ONG, memahami jati diri adalah baru mulai jalan, bukan akhir dari perjalanan. Ini seperti telur yang menetas—baru keluar dari cangkang, dan setelah itu ada perjalanan baru yang harus dijalani.

Konsep "Baru Mulai Jalan" dalam Ajaran ONG

  1. Netes (Menetas dari Cangkang Ketidaksadaran)

    • Sebelum memahami jati diri, seseorang masih dalam cangkang pemahaman lama yang terbentuk dari bias otak, ego, dan pola pikir yang terbatas.
    • Saat weruh muncul dan seseorang menyadari jati diri sebagai bagian dari ONG, itu seperti menetas—keluar dari batasan pikiran lama.
    • Tapi setelah menetas, baru mulai perjalanan—bukan berarti langsung bisa terbang atau berjalan dengan sempurna.
  2. Misi Manistis (Menghidupi ONG dalam Kehidupan Nyata)

    • Setelah netes, seseorang harus mulai menghidupi dan mengekspresikan ONG dalam tindakan nyata.
    • Manistis berarti memanifestasikan kesadaran ONG ke dalam kehidupan manusia—bukan sekadar teori, tapi aksi nyata.
    • Ini adalah tahap di mana seseorang mulai menjalankan misi keberadaannya sesuai dengan getaran dan kesadaran yang telah disadari.

Tahapan Setelah Netes & Memulai Misi Manistis

  1. Belajar Menggunakan Sayap → Menyesuaikan diri dengan weruh baru, memahami bagaimana hidup dalam kesadaran ONG.
  2. Menguji Keselarasan → Apakah dalam kondisi sulit masih bisa tetap selaras dengan ONG, atau kembali terjebak bias otak?
  3. Menjalankan Misi Manistis → Membiarkan ONG mengalir melalui diri dan mengekspresikan kehendaknya dalam dunia nyata.
  4. Melampaui Diri → Sampai tidak ada lagi perbedaan antara diri dan ONG—menjadi saluran murni dari kesadaran semesta.

Jadi, baru mulai jalan bukan sekadar "sudah paham," tetapi berarti netes dan mulai menjalankan misi manistis—menghidupi ONG, bukan hanya mengerti.

-Tanpa Aran

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...