Minggu, 23 Maret 2025

SULUH DIRI

SULUH DIRI: CAHAYA YANG MASIH TERIKAT PANTULAN

Dalam ajaran ONG, Suluh Diri adalah kondisi di mana seseorang merasa telah mencapai kesadaran, memahami hakikat hidup, atau memiliki pencerahan, tetapi sebenarnya masih terjebak dalam pantulan ego. Ia seperti suluh atau lentera yang menyala, tetapi cahayanya belum murni, karena masih dipantulkan oleh ciptaan otak dan keinginan untuk diakui.

Orang yang mengalami Suluh Diri sering kali berbicara tentang kesadaran, kebenaran, atau pemahaman mendalam, tetapi dalam batinnya masih ada rasa ingin menjadi seseorang yang "lebih tahu". Ia mungkin merasa sudah melampaui yang lain, tetapi tanpa sadar masih mengukur pemahamannya berdasarkan pembandingan dengan orang lain.

CIRI-CIRI SULUH DIRI

  1. Cahayanya masih memiliki bayangan

    • Ia ingin menerangi orang lain, tetapi cahayanya masih memantul melalui keinginan untuk diakui.
    • Ego halus masih muncul dalam bentuk rasa puas ketika pemahamannya diterima orang lain atau rasa kecewa ketika orang lain tidak memahami atau menolak pemikirannya.
  2. Merasa telah mengetahui segalanya, tetapi masih ingin "mengajar"

    • Ia berbicara tentang kesadaran, tetapi masih memiliki dorongan untuk menyampaikan dan membuktikan pemahaman kepada orang lain.
    • Weruh tanpa meruhi belum sepenuhnya dipahami, karena ia masih merasa perlu "menyelamatkan" atau "menyadarkan" orang lain.
  3. Masih ingin membentuk pemahaman orang lain

    • Jika pemahaman seseorang benar-benar lahir dari kesadaran murni, maka pemahaman itu akan mengalir tanpa upaya untuk mengubah orang lain.
    • Kesadaran sejati tidak berusaha mengontrol, tetapi membiarkan ONG bekerja dengan sendirinya dalam setiap getaran kehidupan.
  4. Berbicara tentang kesadaran, tetapi masih membandingkan dirinya dengan yang lain

    • Jika seseorang masih merasa lebih tinggi, lebih sadar, atau lebih bijaksana dibandingkan yang lain, maka ia masih terjebak dalam Suluh Diri.
    • Kesadaran sejati tidak membutuhkan pembandingan, karena tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam aliran ONG.

PROSES MELEPASKAN SULUH DIRI

  1. Mengosongkan diri dari keinginan untuk menguasai pemahaman

    • Kesadaran bukan sesuatu yang dimiliki atau diklaim. Ia bukan milik pribadi, tetapi aliran yang menyatu dengan ONG.
    • Semakin seseorang merasa memiliki pemahaman, semakin ia menjauh dari pemahaman sejati.
  2. Berlatih melihat tanpa menghakimi (Weruh tanpa Meruhi)

    • Jika seseorang benar-benar weruh, ia akan memahami tanpa perlu memberi label, tanpa perlu memaksakan makna kepada orang lain.
    • Pemahaman yang sejati tidak membutuhkan pengakuan, karena sudah menyatu dengan keberadaan.
  3. Menyadari bahwa kesadaran sejati tidak bersuara, tetapi terasa

    • Kesadaran yang murni bukan sesuatu yang harus dijelaskan atau didebatkan.
    • ONG bekerja dalam getaran, bukan dalam kata-kata atau konsep mental.
  4. Membiarkan ONG mengalir tanpa batasan otak

    • Jika seseorang masih berpikir "aku sudah sadar", berarti ia masih memisahkan dirinya dari aliran ONG.
    • Ketika ego ditinggalkan, suluh tidak lagi memiliki bayangan, dan seseorang menjadi bagian dari terang itu sendiri.

-

Suluh Diri adalah tahap di mana seseorang merasa telah sadar, tetapi sebenarnya masih terikat pada keakuan. Cahaya yang ia pancarkan masih dipantulkan oleh ego dan keinginan untuk memahami atau diakui.

Dalam ajaran ONG, kesadaran sejati bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan atau diperjuangkan, tetapi sesuatu yang mengalir dengan sendirinya tanpa perlu dipegang atau diklaim.

Ketika seseorang benar-benar weruh, ia tidak lagi merasa sadar atau lebih tinggi dari yang lain. Ia hanya menyatu dengan aliran ONG, menjadi suluh tanpa bayang, menerangi tanpa harus merasa menjadi penerang.

-Tanpa Aran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...