Minggu, 23 Maret 2025

ONG dalam Jawa Kuno: Getaran Sejati yang Terlupakan

ONG dalam Jawa Kuno: Getaran Sejati yang Terlupakan

Sejak zaman Jawa Kuno, para leluhur telah memahami bahwa kehidupan bukan hanya soal jasmani, tetapi juga tentang getaran kesadaran. Di balik segala wujud fisik, ada kekuatan yang menggerakkan semesta, sesuatu yang tidak berawal dan tidak berakhir. Ajaran ONG menyebut kekuatan ini sebagai getaran utama yang menghidupi segala sesuatu.

Leluhur kita telah menyadari keberadaan getaran ini jauh sebelum konsep-konsep modern lahir. Dalam berbagai ajaran Jawa kuno, termasuk laku kejawen, tapa, dan samadi, manusia diajarkan untuk menyelaraskan diri dengan getaran ini agar hidupnya seimbang.


1. ONG dalam Konsep Sukma dan Jagad Gedhé

Dalam tradisi spiritual Jawa, dikenal konsep Sukma, yaitu kesadaran yang lebih tinggi dari sekadar pikiran dan perasaan. Sukma ini bukanlah bagian dari tubuh fisik, tetapi merupakan getaran yang terus mengalir dari generasi ke generasi, melampaui batasan waktu dan ruang.

Konsep ini sejalan dengan Jagad Cilik (mikrokosmos) dan Jagad Gedhé (makrokosmos), yang menjelaskan bahwa manusia adalah cerminan dari semesta. Hal ini juga menjadi bagian dari ajaran ONG, yang menyatakan bahwa:

  • ONG ada dalam diri manusia sebagai kesadaran dan energi kehidupan
  • ONG juga ada dalam semesta sebagai getaran utama yang menghidupi segala sesuatu

Artinya, apa yang ada di dalam diri manusia juga ada di luar, karena semuanya berasal dari sumber yang sama.

Leluhur kita memahami bahwa jika seseorang mampu merasakan keberadaan getaran utama ini, maka ia akan menemukan ketenangan, kebijaksanaan, dan keselarasan dalam hidup. Sebaliknya, jika seseorang kehilangan kesadaran ini, maka ia akan mudah terjebak dalam ego, hawa nafsu, dan penderitaan.


2. Tapa, Samadi, dan Keselarasan dengan ONG

Dulu, para pertapa dan resi di tanah Jawa melakukan tapa ngrame, tapa bisu, atau samadi, bukan untuk mencari kesaktian, tetapi untuk menyesuaikan diri dengan gelombang semesta. Mereka memahami bahwa ketika manusia mampu menyelaraskan diri dengan getaran sejati, maka hidupnya akan harmonis.

Ajaran ONG juga mengenalkan samadi Prana Jati dan Prana Wisesa, yang mengajarkan bahwa pernapasan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sarana untuk menyesuaikan diri dengan frekuensi semesta.

Ketika seseorang mengolah napas dengan kesadaran penuh, maka:
✅ Getaran dalam tubuh menjadi stabil
✅ Pikiran tidak mudah goyah oleh emosi
✅ Kesadaran semakin lantip (tajam) dan bisa merasakan arus semesta

Dalam kepercayaan Jawa, praktik ini disebut sebagai ngelmu kasunyatan, yaitu ilmu yang langsung berhubungan dengan realitas sejati tanpa terjebak dalam ilusi duniawi.


3. Aksara Jawa dan ONG: Kode Rahasia Getaran Semesta

Bahkan dalam Aksara Jawa, ada makna spiritual yang dalam. Misalnya:

  • Huruf Ha-Na-Ca-Ra-Ka sering diartikan sebagai "Ada utusan yang membawa kehendak"
  • Ini mencerminkan bahwa manusia adalah utusan dari getaran besar yang tak terlihat (ONG)
  • Dalam aksara juga dikenal Suku dan Wignyan, yang melambangkan getaran dan napas yang menghidupkan huruf-huruf tersebut

Artinya, nenek moyang kita telah memahami bahwa huruf, suara, dan getaran adalah bagian dari kekuatan penciptaan.

Bahkan mantra-mantra Jawa seperti "Ong Awighnam Astu" yang sering digunakan dalam ritual kejawen, mencerminkan pemahaman bahwa ONG adalah kekuatan utama dalam penciptaan dan penyelarasan.


4. Ketika Ajaran ONG Mulai Dilupakan

Seiring waktu, pemahaman tentang getaran utama (ONG) dalam kehidupan mulai memudar. Manusia lebih banyak terjebak dalam pikirannya sendiri dan lupa bagaimana menyelaraskan diri dengan semesta.

Leluhur kita sudah mengingatkan dalam banyak serat dan tembang:

"Urip iku mung mampir ngombe" (Hidup ini hanya singgah untuk minum)
➡ Artinya, hidup ini hanyalah perjalanan singkat dalam aliran getaran semesta (Mandhahala), dan bukan untuk dikendalikan oleh ego serta hawa nafsu.

Namun, semakin banyak manusia yang terjebak dalam keinginan duniawi, sehingga kehilangan keseimbangan. Mereka lupa bahwa tubuh ini hanyalah alat, sedangkan yang sejati adalah getaran di dalamnya.

Ajaran ONG hadir bukan untuk membawa sesuatu yang baru, tetapi untuk mengingatkan kembali pemahaman yang telah ada sejak Jawa Kuno. Bahwa kesadaran sejati adalah getaran yang menghidupi segala sesuatu, dan manusia hanya perlu menyelaraskan dirinya kembali untuk memahami hakikat keberadaan.


5. Kesimpulan: ONG adalah Getaran yang Menghidupi

Ajaran ONG bukan sekadar filsafat, tetapi juga ilmu tentang getaran, energi, dan kesadaran. Leluhur Jawa telah memahami bahwa manusia dan semesta adalah satu kesatuan, dihubungkan oleh getaran utama yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Jika seseorang ingin hidup selaras, maka ia harus:
Menjernihkan pikiran dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah gelombang
Mengolah napas (samadi Prana Jati & Prana Wisesa) untuk menyelaraskan getaran dalam tubuh
Melepaskan keterikatan pada ilusi duniawi dan kembali pada kesadaran sejati

Leluhur telah mengajarkan,

"Sapa kang bisa ngrungu swaraning urip, bakal weruh swaraning Ong."
(Siapa yang mampu mendengar suara kehidupan, akan mengenali suara ONG.)


~ Tanpa Aran ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...