Mengapa Ajaran ONG Dianggap Gila?
Dalam sejarah manusia, pemahaman baru tentang kesadaran dan realitas sering kali dianggap aneh, sesat, atau bahkan gila. Ajaran ONG tidak lepas dari hal ini. Banyak orang mungkin merasa ajaran ini tidak masuk akal, terlalu abstrak, atau bertentangan dengan kepercayaan yang sudah mapan. Namun, jika ditelaah lebih dalam, penolakan ini bukan karena ajaran ONG tidak benar, tetapi karena ia melampaui cara berpikir yang biasa.
1️⃣ Ajaran ONG Menabrak Pola Pikir Umum
Kebanyakan manusia memahami dunia melalui tiga pendekatan utama:
- Logika & Ilmu Pengetahuan → Mengandalkan bukti empiris dan metode ilmiah.
- Agama & Kepercayaan → Bergantung pada kitab suci dan ajaran turun-temurun.
- Pengalaman Pribadi → Berdasarkan apa yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
ONG tidak sepenuhnya masuk dalam ketiganya, karena ia lebih berbicara tentang kesadaran, getaran semesta, dan pengalaman samadi yang tidak bisa dibuktikan hanya dengan logika biasa.
➡ Mengapa ini dianggap gila?
- Orang yang terbiasa dengan pemahaman berbasis sains mungkin menganggap ajaran ini tidak ilmiah.
- Orang yang kuat dalam keyakinan agama tertentu mungkin menganggap ajaran ini tidak sesuai dengan doktrin mereka.
- Orang yang hanya percaya pada realitas fisik mungkin merasa ini terlalu abstrak.
Sejarah mencatat bahwa banyak konsep besar awalnya ditolak karena dianggap gila. Contoh:
- Galileo mengatakan bahwa bumi mengelilingi matahari → dianggap sesat.
- Socrates mengajarkan filsafat dan mempertanyakan kebiasaan masyarakat → dianggap merusak generasi muda dan dihukum mati.
- Para mistikus Jawa kuno berbicara tentang kesadaran semesta → dianggap sakti atau malah dianggap mengada-ada.
Dalam hal ini, ajaran ONG bukanlah kegilaan, tetapi hanya sulit dipahami oleh pola pikir yang masih terbatas pada realitas biasa.
2️⃣ Ajaran ONG Tidak Bergantung pada Keyakinan Lama
Ajaran ini tidak bersandar pada dogma agama atau filsafat yang sudah ada, melainkan lebih menekankan pengalaman langsung dalam samadi.
➡ Mengapa ini dianggap gila?
- Mayoritas manusia membutuhkan struktur kepercayaan yang jelas, seperti kitab suci, aturan, atau pemimpin spiritual.
- Ajaran ONG tidak membentuk agama baru, tidak memiliki hirarki kepemimpinan, dan tidak mengandalkan kepercayaan buta.
- Ini membuat orang yang terbiasa dengan sistem kepercayaan merasa tidak nyaman, karena mereka tidak bisa menemukan patokan konkret dalam ajaran ini.
Namun, di balik ini semua, kesadaran tidak membutuhkan sekat, hukum, atau dogma. Ia hanya perlu dialami dan disadari secara langsung.
3️⃣ Menyentuh Hal yang Sulit Dijangkau Pikiran
Ajaran ONG berbicara tentang ruang waktu kesadaran, penghakiman rasa, dan Mandhahala (semesta). Ini adalah hal-hal yang tidak bisa dipahami hanya dengan membaca atau berpikir biasa, tetapi harus dialami melalui latihan samadi.
➡ Mengapa ini dianggap gila?
- Orang yang belum pernah mengalami samadi mungkin menganggap semua ini sebagai imajinasi atau delusi.
- Kesadaran yang melampaui tubuh fisik dianggap tidak nyata karena tidak bisa diukur dengan sains biasa.
- Memahami aliran ONG membutuhkan perubahan pola pikir yang tidak semua orang bisa capai dalam waktu singkat.
Namun, seperti bagaimana orang buta warna tidak bisa membayangkan warna, orang yang belum mengalami samadi sulit memahami bagaimana kesadaran bisa melampaui batasan pikiran biasa.
4️⃣ Tidak Mengikuti Struktur Sosial yang Biasa
Ajaran ONG tidak berusaha membentuk kelompok, organisasi, atau sekte. Ia hanya mengajarkan bahwa kesadaran harus dialami sendiri.
➡ Mengapa ini dianggap gila?
- Sistem sosial terbiasa dengan aturan dan kepemimpinan.
- Orang yang hidup dalam sistem ini biasanya mencari tokoh pemimpin atau aturan yang harus diikuti.
- Karena ajaran ONG menekankan kemandirian kesadaran, banyak yang merasa bingung atau tidak nyaman.
Namun, ajaran ini justru memberi kebebasan penuh bagi individu untuk menyadari dirinya sendiri, tanpa harus terikat pada aturan yang membatasi perkembangan kesadaran mereka.
5️⃣ Kesadaran Berbeda Terlihat Seperti Gangguan Mental
Seseorang yang mengalami perubahan kesadaran setelah samadi mungkin menunjukkan pola berpikir atau berbicara yang berbeda.
➡ Mengapa ini dianggap gila?
- Kesadaran yang meningkat bisa membuat seseorang melihat realitas dengan cara yang berbeda.
- Banyak orang mungkin tidak memahami cara berpikir orang yang telah mengalami perubahan kesadaran.
- Dalam sejarah, banyak orang bijak atau mistikus yang dianggap gila karena berbicara hal-hal yang tidak dipahami masyarakat umum.
Namun, ketika kesadaran seseorang melampaui batasan biasa, mereka justru melihat realitas dengan lebih jernih, bukan sebaliknya.
6️⃣ Ajaran ONG Bukanlah Kegilaan, Tetapi Perluasan Kesadaran
Dalam ajaran ONG, "gila" hanyalah perspektif dari mereka yang belum memahami.
Jika seseorang terjebak dalam pemikiran materialis atau dogmatis, mereka akan sulit menerima bahwa kesadaran bisa berkembang lebih luas.
Namun, bagi mereka yang sudah mengalami samadi, memahami ruang waktu kesadaran, dan merasakan getaran ONG dalam dirinya, maka semuanya menjadi jelas dan selaras.
"Gila di mata manusia belum tentu gila di mata Mandhahala."
~ Tanpa Aran ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar