Mengapa Masih Bingung Meski Sudah Punya Agama atau Keyakinan Menurut Ajaran ONG
Banyak orang merasa kebingungan meskipun mereka sudah memiliki agama atau keyakinan tertentu. Dalam banyak kasus, kebingungan ini bukan berasal dari ketidakbenaran agama atau keyakinan tersebut, tetapi lebih disebabkan oleh lapisan kesadaran dan pengaruh faktor psikologis yang lebih dalam. Ajaran ONG memberikan penjelasan yang lebih luas dan mendalam tentang mengapa kebingungan ini masih bisa muncul meskipun seseorang sudah merasa memiliki landasan spiritual. Hal ini dapat dijelaskan dengan merujuk pada kesadaran individu, mekanisme alam bawah sadar, dan interaksi antara pikiran rasional dan energi semesta yang lebih besar.
1. Kesadaran dan Alam Bawah Sadar
Kesadaran manusia terdiri dari lapisan-lapisan yang sangat kompleks, yang tidak hanya mencakup pikiran yang tampak secara sadar, tetapi juga lapisan bawah sadar yang sangat besar dan penuh dengan memori, pengalaman, dan informasi yang tersembunyi. Banyak dari kita hidup dengan kesadaran yang terbatas pada lapisan atas — yaitu pikiran yang langsung tampak dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bawah sadar kita menyimpan banyak informasi, seperti keyakinan yang dibentuk sejak kecil, trauma masa lalu, serta pola-pola yang membentuk pandangan hidup kita.
ONG mengajarkan bahwa pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan dan keberadaan kita tidak hanya bisa diakses dengan berpikir rasional atau mengikuti dogma agama saja. Untuk mencapai pemahaman yang lebih lengkap, kita perlu mengakses kesadaran yang lebih dalam, yang melibatkan aspek-aspek yang ada di bawah permukaan pikiran sadar kita. Inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa meskipun kita sudah memiliki agama atau keyakinan, kita masih merasa bingung atau tidak sepenuhnya memahami makna hidup yang lebih besar.
Contohnya, banyak orang yang mengklaim memiliki keyakinan agama yang kuat, namun masih merasa tidak puas atau bingung dalam menjalani hidup. Hal ini bisa terjadi karena ada ketidaksesuaian antara ajaran agama yang mereka ikuti dengan pola bawah sadar mereka yang terbentuk oleh pengalaman masa lalu dan ketakutan yang terkubur dalam diri mereka. Tanpa mengakses alam bawah sadar ini, pemahaman mereka tentang agama atau keyakinan mereka hanya bersifat sementara atau terbatas.
2. Batasan Doktrin dan Dogma Agama
Setiap agama memiliki doktrin dan dogma tertentu yang memberikan pedoman tentang bagaimana kita harus menjalani hidup. Doktrin ini biasanya bersifat tetap, dan mengatur tentang benar atau salah, dosa atau pahala, serta bagaimana kita seharusnya berinteraksi dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih besar. Namun, sering kali doktrin ini membatasi cara kita melihat dunia dan diri kita sendiri, serta menghalangi pemahaman yang lebih luas tentang alam semesta dan hakikat kehidupan.
Dalam banyak kasus, doktrin agama bisa menciptakan penghalang bagi seseorang untuk memahami kedalaman spiritualitas yang lebih besar. Ini karena doktrin-doktrin ini cenderung mempersempit pandangan kita tentang apa yang mungkin atau tidak mungkin dalam hal spiritualitas. Oleh karena itu, meskipun kita mengikuti ajaran agama dengan sungguh-sungguh, kita tetap bisa merasa bingung atau terhambat dalam perjalanan spiritual kita.
ONG mengajarkan bahwa spiritualitas dan pemahaman tentang alam semesta seharusnya tidak dibatasi oleh doktrin atau dogma apa pun. Melalui pemahaman tentang ONG sebagai energi yang mengalir dalam seluruh kehidupan, kita bisa belajar untuk melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas dan terbuka. Pengalaman langsung, bukan hanya pengajaran teoretis, adalah kunci untuk mengakses pemahaman yang lebih dalam tentang alam semesta, diri kita sendiri, dan hubungan kita dengan dunia.
3. Ketidakseimbangan antara Pikiran Rasional dan Energi Spiritual
Pikiran manusia seringkali mengandalkan logika dan rasionalitas dalam memproses informasi dan mengambil keputusan. Agama atau keyakinan sering kali dilihat dan dipahami dari sudut pandang ini, yang bisa menyebabkan kesulitan ketika kita mencoba memahami aspek-aspek spiritual yang lebih halus, yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.
Namun, dalam ajaran ONG, tidak ada pemisahan antara pikiran rasional dan energi spiritual. Semua aspek kehidupan ini saling terhubung melalui energi yang mengalir melalui kita dan semesta. Pikiran rasional berperan dalam proses pengamatan dan pemahaman, tetapi energi spiritual adalah aspek yang lebih dalam dan tak terlihat yang menghubungkan kita dengan kebenaran universal.
Misalnya, ketika seseorang hanya berfokus pada doktrin agama tanpa melibatkan diri dalam pengalaman batin yang lebih mendalam, mereka mungkin merasa bahwa ajaran tersebut tidak dapat diterima sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. ONG mengajarkan bahwa untuk merasakan keberadaan yang lebih besar dan lebih universal, kita perlu melatih kesadaran kita agar terhubung dengan energi yang lebih tinggi, yang dapat dilakukan melalui meditasi, teknik pernapasan, atau praktik-praktik lainnya yang mengharmoniskan pikiran dan tubuh dengan energi semesta.
4. Pengaruh Lingkungan dan Budaya yang Terbentuk Sejak Dini
Selain faktor kesadaran dan dogma, kebingungan yang dirasakan juga bisa muncul dari pengaruh lingkungan dan budaya yang membentuk kita sejak kecil. Dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat, kita terus-menerus menerima informasi yang membentuk pandangan hidup kita. Kebanyakan informasi ini tidak selalu berbicara tentang pemahaman spiritual yang lebih dalam, melainkan lebih pada apa yang dianggap "benar" secara sosial atau budaya.
Dalam banyak budaya, agama sering kali dikaitkan dengan identitas pribadi atau sosial seseorang. Namun, ini seringkali lebih kepada bentuk eksternal daripada pemahaman internal yang mendalam. Karena itu, seseorang mungkin merasa bingung meskipun sudah mengidentifikasi diri mereka dengan agama atau keyakinan tertentu. Hal ini karena mereka mungkin hanya mengikuti tradisi atau norma yang ada, tanpa benar-benar merasakan atau memahami inti dari ajaran tersebut.
ONG mengajarkan bahwa untuk benar-benar merasakan kedamaian dan pemahaman spiritual, kita perlu melihat diri kita lebih jauh dari sekadar identitas budaya atau agama yang sudah ada. Melalui pengembangan kesadaran, kita dapat mulai melihat diri kita sebagai bagian dari energi semesta yang lebih besar, bukan hanya sebagai individu yang terkurung dalam batasan budaya atau agama tertentu.
5. Peran Transformasi Energi dalam Pengalaman Spiritual
Pada akhirnya, kebingungan yang dirasakan juga bisa disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengakses transformasi energi yang lebih besar dalam diri kita. ONG mengajarkan bahwa kehidupan dan kesadaran kita bergerak dalam bentuk energi, yang terus berubah dan berkembang. Ketika kita tidak dapat merasakan atau mengakses energi ini dengan cara yang benar, kita mungkin merasa terpisah dari kebenaran atau makna yang lebih dalam.
Proses transformasi energi dalam ONG bisa dimulai dengan teknik seperti samadi atau latihan pernapasan yang dirancang untuk menghubungkan kita dengan getaran alam semesta. Dengan konsistensi dalam praktik ini, kita mulai mengakses energi lebih tinggi yang memungkinkan kita untuk merasakan kesatuan dengan semesta dan memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang keberadaan kita.
Kesimpulan
Kebingungan yang dialami meskipun sudah memiliki agama atau keyakinan dapat dipahami melalui ajaran ONG sebagai hasil dari ketidakseimbangan antara kesadaran bawah sadar, doktrin agama, dan ketidakterhubungan dengan energi spiritual yang lebih besar. ONG mengajarkan bahwa untuk mengatasi kebingungan ini, seseorang perlu melibatkan diri dalam pengalaman spiritual yang langsung, mengakses kesadaran yang lebih dalam, dan merasakan aliran energi semesta yang lebih besar. Hanya dengan cara ini seseorang dapat mencapai pemahaman yang lebih utuh dan mendalam tentang diri mereka dan dunia yang mereka huni.