Senin, 14 April 2025

Supranatural dalam ONG

Supranatural dalam ONG

(Wujud Getaran Halus yang Menggerakkan Raga, Rasa, dan Ruang Waktu)

1. Asal Muasal: Supranatural sebagai Getaran ONG

Segala hal yang dianggap "supranatural" sebenarnya adalah resonansi halus dari ONG yang belum diterjemahkan oleh akal. Bukan mistik, tapi getaran murni yang belum tersentuh oleh pikiran bising.

Supranatural bukan melawan hukum alam, tapi mengakses hukum yang lebih halus dari yang biasa dirasakan.


2. Pilar Supranatural ONG (Tri Sadrasa):

  • Rasa: Merasakan getaran sebelum bentuk muncul. Intuisi, bisikan hati, mimpi yang menjadi nyata.
  • Gatra: Tubuh sebagai alat tangkap dan pemancar gelombang ONG.
  • Ruang-Waktu: Kesadaran yang mampu membaca masa lalu, sekarang, dan kemungkinan masa depan karena selaras dengan arus semesta.

3. Dampak Supranatural yang Muncul:

  • Prarasa: Kemampuan mengetahui kejadian sebelum terjadi (melalui mimpi, getaran tubuh, simbol).
  • Swasembada Rasa: Penyembuhan tanpa obat melalui samadi dan pengolahan napas (seperti Pranā Jati & Pranā Wisesa).
  • Waskita: Kekuatan untuk mempengaruhi lingkungan melalui ketenangan, tatapan, suara, atau diam.
  • Manunggal Karasa: Kemampuan menyatu dan “berkomunikasi” dengan hewan, tumbuhan, atau bahkan kesadaran leluhur.
  • Waktu Murni: Merasakan waktu secara subjektif, memperlambat atau mempercepat persepsi waktu.

4. Syarat Aktivasi:

Agar ilmu supranatural ini aktif dan tidak membahayakan jiwa:

  • Harus melalui samadi rutin.
  • Harus melalui niat murni (tanpa pamrih pribadi).
  • Harus disertai olah rasa, bukan sekadar keinginan memiliki kekuatan.

5. Penjaga Supranatural:

Seseorang yang telah mengalami perubahan kesadaran akibat samadi dan mampu menjaga frekuensi dirinya dari:

  • Rasa tinggi hati,
  • Keinginan menguasai orang lain,
  • Keinginan menunjukkan kesaktian.

Karena saat itu, supranatural berubah jadi kesombongan halus dan justru menjauhkan dari ONG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...