Mengapa Orang Sulit Menyadari Kesalahannya? Sebuah Refleksi tentang Kebenaran, Kesalahan, dan Keadilan
Pernahkah kita bertanya:
Kenapa seseorang tetap merasa benar, meski jelas-jelas bersalah?
Mengapa kebenaran terasa kabur? Kenapa keadilan terasa menjauh?
Sesungguhnya, kesalahan bukan hanya perbuatan—tapi juga cara berpikir, cara memandang, bahkan cara merasa. Banyak orang tidak menyadari kesalahannya karena beberapa alasan mendasar:
1. Ketidaktahuan → seperti mata tertutup kacamata buram
Orang sering salah bukan karena niat jahat, tapi karena tidak tahu.
Seperti memakai kacamata kotor, dunia terlihat gelap padahal aslinya terang.
Contoh nyata:
Seorang pedagang menimbang dagangannya kurang dari seharusnya. Dia bilang,
“Ah, cuma selisih sedikit… semua orang juga begitu.”
Padahal ia sudah menipu pembeli tanpa sadar sepenuhnya. Ketidaktahuan membuatnya merasa wajar, padahal salah.
2. Ego → seperti telinga yang hanya mau mendengar pujian
Ego membuat orang hanya mau mendengar apa yang menyenangkan hatinya.
Kritik dianggap serangan.
Saran dianggap merendahkan.
Contoh nyata:
Seorang atasan ditegur bawahannya karena keputusannya salah. Tapi dia marah, lalu berkata:
“Kamu siapa berani mengajari aku?!”
Akhirnya, kesalahan dibiarkan berlanjut hanya demi mempertahankan harga diri.
3. Kepentingan → seperti kompas yang dimagneti
Kompas seharusnya menunjuk utara. Tapi jika didekatkan magnet → arah kompas terganggu.
Begitu juga kepentingan pribadi.
Jika seseorang punya kepentingan → penilaiannya miring, kebenaran ditekuk, kesalahan dibungkus logika.
Contoh nyata:
Seorang pejabat membenarkan proyek yang sebenarnya cacat, karena keluarganya mendapat keuntungan dari situ.
“Proyek ini sah kok, semua sudah sesuai prosedur.”
Padahal dia tahu ada pelanggaran, tapi kepentingan membuatnya menutup mata.
4. Takut mengakui → seperti menambal dinding retak dengan cat
Mengakui kesalahan itu berat, menyakitkan, menurunkan harga diri.
Maka orang menutupinya dengan dalih, alasan, pembelaan.
Contoh nyata:
Seorang murid mencontek saat ujian. Ketahuan gurunya. Tapi dia tetap bilang:
“Saya cuma lihat sebentar, bukan nyontek kok.”
Ketakutan akan hukuman membuatnya menyangkal, padahal jelas salah.
Akibatnya: Kebenaran, Kesalahan, Keadilan Sulit Dikenali
Ketika ketidaktahuan, ego, kepentingan, dan ketakutan berkumpul,
kebenaran jadi kabur, kesalahan terasa benar, keadilan makin menjauh.
Orang mulai bertanya:
“Siapa yang salah?”
“Siapa yang benar?”
“Siapa yang layak mendapat keadilan?”
Semua terjebak dalam lingkaran kabut yang sulit ditembus.
Bagaimana Menembus Lingkaran Ini?
1. Membuka kesadaran diri
Kesadaran seperti cermin → hanya ketika kita berani bercermin, kita tahu noda di wajah kita.
2. Mendengarkan kritik dengan rendah hati
Kritik itu seperti cahaya yang menunjukkan jalan gelap.
Tanpa cahaya, kita tersesat.
3. Melepaskan kepentingan pribadi saat menilai
Hanya hati yang netral yang bisa menilai adil.
Jika kompas sudah bebas magnet, ia akan menunjukkan arah sebenarnya.
4. Berani mengakui dan memperbaiki
Mengakui salah bukan kelemahan, tapi keberanian.
Memperbaiki salah adalah keadilan untuk diri sendiri dan orang lain.
Penutup: Jalan Kesadaran Menuju Keadilan
Kebenaran, kesalahan, dan keadilan bukan hanya di pengadilan, bukan hanya di pasal, tapi di dalam hati manusia.
Saat hati berani jujur, akal berani terbuka, ego berani dilepaskan—di situlah keadilan mulai hidup.
Karena keadilan di dunia luar tak akan pernah terwujud jika keadilan di dalam diri tak pernah lahir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar