Pangiwa Panengen: Dua Jalan, Satu Kesadaran
Dalam hidup, manusia sering dihadapkan dua jalan:
- Pangiwa → jalan mengalami langsung; jatuh, terluka, merasakan akibat.
- Panengen → jalan menahan diri; menghindari, menjaga diri sebelum jatuh.
Secara umum, banyak orang menganggap panengen lebih baik:
“Panengen itu jalan benar, terang, suci.”
Sebaliknya, pangiwa sering dianggap buruk:
“Pangiwa itu jalan salah, gelap, menyesatkan.”
Padahal, keduanya adalah cara belajar yang sah menuju kesadaran.
Pangiwa tidak salah jika dijalani dengan sadar.
Panengen tidak benar jika hanya dijalani karena takut tanpa paham.
Contoh sederhana:
- Seseorang berhenti minum miras karena merasa kapok setelah mengalami sakit, malu, dicemooh. → pangiwa membawa kesadaran lewat pengalaman.
- Seseorang berhenti minum miras karena menahan diri sejak awal, sadar akibat buruknya tanpa perlu mengalami. → panengen membawa kesadaran lewat pengendalian.
Keduanya sama-sama sampai ke kesadaran.
Bedanya: jalannya.
Yang membuat jalan itu baik bukan jalannya, tapi kesadarannya.
Jika seseorang memakai pangiwa hanya untuk memuaskan nafsu tanpa kesadaran, itu bukan pangiwa menuju kesadaran—itu hanya alasan menuruti keinginan.
Jika seseorang memakai panengen hanya karena takut, tanpa memahami maknanya, itu juga bukan panengen yang sejati—hanya formalitas tanpa isi.
Pangiwa atau panengen bukan sekadar soal hitam atau putih, salah atau benar.
Keduanya adalah jalan belajar, tergantung kesadaran yang menyertainya.
Karena hidup selalu memberi pilihan:
Berani melangkah, berani menanggung.
Atau menahan diri, menjaga sejak awal.
Semua menuju satu: kesadaran.
Dua jalan. Satu kesadaran.
Kesadaran itu tujuan sejati perjalanan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar