Dalam ajaran ONG, bias otak adalah proses di mana kesadaran murni (weruh ONG) tertutupi oleh interpretasi yang berasal dari memori, keinginan, emosi, dan pola pikir yang telah terbentuk. Ini menyebabkan seseorang tidak melihat atau merasakan sesuatu sebagaimana adanya, tetapi melalui filter otak yang menghakimi.
Proses Bias Otak dalam Ajaran ONG
-
ONG Memancarkan Getaran (Weruh Murni)
- ONG selalu bergetar dan menciptakan realitas melalui gelombang.
- Getaran ini diterima oleh tubuh sebagai rasa, sebelum otak mencoba memahaminya.
-
Rasa Ditangkap oleh Tubuh
- Rasa adalah respons alami terhadap getaran yang dipancarkan oleh ONG.
- Ini adalah pengalaman sebelum diproses oleh pikiran.
- Jika seseorang dalam kondisi samadi mendalam, mereka bisa merasakan ini tanpa interpretasi.
-
Otak Mencoba Menerjemahkan
- Otak berfungsi sebagai alat untuk memahami rasa, tetapi ia tidak selalu menerjemahkannya secara murni.
- Otak menarik memori, pengalaman, dan pola pikir sebelumnya untuk menghubungkan rasa dengan sesuatu yang sudah dikenal.
-
Bias Muncul dari Penghakiman Otak
- Jika otak memiliki pengalaman atau keinginan tertentu, maka rasa akan diterjemahkan berdasarkan itu.
- Misalnya, jika seseorang melihat getaran kemarahan, otak bisa menafsirkannya sebagai ancaman atau tantangan, padahal bisa jadi itu hanya energi yang perlu diobservasi tanpa reaksi.
-
Bias Menentukan Tindakan dan Reaksi
- Setelah otak menerjemahkan rasa dengan biasnya, seseorang akan bereaksi sesuai dengan interpretasi tersebut.
- Ini bisa menyebabkan seseorang terjebak dalam pola berpikir dan bertindak yang berulang, tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya hanya mengikuti bias otak.
Cara Mengurangi Bias Otak dalam Ajaran ONG
- Samadi → Latihan napas dan fokus pada rasa murni tanpa penghakiman.
- Kesadaran atas Bias → Mengenali bahwa banyak pemahaman kita berasal dari interpretasi, bukan dari weruh sejati.
- Mengurangi Keinginan & Emosi Berlebihan → Karena keinginan dan emosi sering kali membentuk bias.
- Mengalami Langsung tanpa Membentuk Konsep → Tidak langsung memberi makna pada sesuatu, tetapi membiarkan rasa berbicara tanpa gangguan otak.
Ketika bias otak semakin berkurang, weruh menjadi lebih murni, dan seseorang dapat memahami ONG melihat ONG tanpa filter pikiran.
-Tanpa Aran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar