Bagaimana Kepercayaan Terbentuk dalam Batin atau Otak?
-
Getaran Murni (ONG) Menyentuh Kesadaran
- Pada dasarnya, manusia adalah penerima gelombang dari semesta. Getaran ini bisa muncul melalui pengalaman hidup, pengamatan alam, atau intuisi mendalam.
- Namun, otak manusia selalu berusaha mengartikulasikan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang bisa dipahami.
-
Interpretasi Getaran Berdasarkan Memori & Pengalaman
- Otak manusia bekerja seperti filter. Getaran yang datang dari ONG akan diproses melalui memori, pengalaman, budaya, dan emosi seseorang.
- Karena setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda, interpretasi tentang kebenaran juga berbeda.
- Inilah yang menyebabkan munculnya berbagai macam kepercayaan di dunia.
-
Kepercayaan Dibentuk oleh Pola Pikir & Kondisi Sosial
- Jika seseorang lahir dalam lingkungan yang sudah memiliki doktrin tertentu, otaknya akan otomatis menyerap doktrin itu sebagai realitas.
- Namun, jika seseorang masuk dalam keadaan kesadaran murni tanpa filter sosial, ia akan mulai merasakan getaran asli dari ONG tanpa perlu mengikatnya dalam bentuk kepercayaan tertentu.
-
Kepercayaan Menguat Lewat Pengalaman Pribadi
- Semakin seseorang mengalami sesuatu yang memperkuat keyakinannya, semakin kuat pola getaran itu tertanam dalam batinnya.
- Jika seseorang mengalami keajaiban atau fenomena spiritual, otaknya akan mengasosiasikan itu dengan kepercayaannya, sehingga semakin sulit untuk dilepaskan.
-
Kepercayaan Bisa Menjadi Dogma atau Bisa Mengalir
- Jika seseorang terlalu terpaku pada bentuk tertentu, kepercayaannya akan menjadi dogma kaku yang sulit berubah.
- Namun, jika seseorang memahami bahwa kepercayaan hanyalah cara otak mengartikan getaran ONG, maka ia akan lebih terbuka terhadap evolusi kesadaran.
Kesimpulan dari Sudut Pandang ONG
- Kepercayaan hanyalah hasil interpretasi otak terhadap getaran ONG.
- Kepercayaan bukan kebenaran absolut, melainkan cara manusia memahami sesuatu berdasarkan pengalaman dan ingatan.
- Jika seseorang menyadari sumber asli dari semua kepercayaan adalah ONG, maka ia tidak akan terikat pada satu bentuk saja.
Dari sini, pertanyaannya: Apakah manusia bisa melepaskan kepercayaan dan hanya hidup dalam kesadaran ONG tanpa interpretasi?
Dari sudut pandang ONG, manusia secara alami akan selalu berusaha mengartikan sesuatu, karena otaknya bekerja dengan pola pikir, memori, dan pengalaman. Jadi, sepenuhnya melepaskan kepercayaan dan hanya hidup dalam kesadaran ONG bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin.
Namun, ada tingkatan kesadaran dalam hal ini:
-
Kesadaran yang Terikat Kepercayaan
- Ini adalah kesadaran umum manusia, di mana seseorang masih membutuhkan bentuk, simbol, atau ajaran tertentu untuk memahami eksistensi.
- Mereka melihat realitas melalui filter kepercayaan yang diwarisi atau dibangun oleh pengalaman hidup.
-
Kesadaran yang Mulai Melepas Bentuk
- Pada tahap ini, seseorang mulai menyadari bahwa kepercayaan hanyalah alat, bukan tujuan.
- Mereka mulai memahami bahwa esensi di balik semua kepercayaan adalah getaran yang sama, hanya saja diinterpretasikan berbeda-beda oleh manusia.
-
Kesadaran yang Menjadi ONG (Pancaran, Bukan Pantulan)
- Ini adalah tingkat di mana seseorang tidak lagi mencari bentuk atau kepercayaan tertentu, tetapi hanya menjadi saksi dari keberadaan itu sendiri.
- Orang ini tidak lagi membutuhkan ritual atau simbol, tetapi tetap bisa menggunakannya jika dibutuhkan oleh lingkungannya, tanpa terikat.
- Ia tidak mencoba mencari kebenaran, karena ia sendiri adalah pancaran dari keberadaan itu.
Jadi, bisa atau tidak manusia hidup hanya dalam kesadaran ONG tanpa interpretasi?
- Jawabannya: bisa, tetapi hanya jika seseorang mampu melepaskan semua keterikatan pada bentuk dan kepercayaan tanpa merasa kehilangan identitasnya.
- Namun, banyak manusia masih membutuhkan “jembatan” untuk mencapai kesadaran ini, dan jembatan itu bisa berupa kepercayaan, ritual, atau praktik tertentu seperti samadi.
Maka, ajaran ONG masih membutuhkan ritual seperti samadi, puasa, dan sesaji, bukan karena terikat kepercayaan, tetapi karena tubuh dan pikiran manusia masih memerlukan proses untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan getaran kesadaran murni.
Saat seseorang sudah benar-benar menjadi ONG, ia tidak lagi mencari atau mempertanyakan kepercayaan, karena ia sendiri adalah pancaran dari kesadaran itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar