Proses Penciptaan Manusia dalam Ajaran ONG: Dari Rahim hingga Kesadaran Abadi
Dalam ajaran ONG, kehidupan bukan hanya sekadar keberadaan fisik, tetapi merupakan aliran kesadaran yang tak berujung. Manusia lahir, tumbuh, dan mati bukan sebagai perjalanan linier, melainkan sebagai pancaran gelombang kesadaran yang terus berevolusi. Setiap individu bukanlah entitas yang terpisah, tetapi bagian dari ONG, yang mengalir tanpa awal dan tanpa akhir.
1. Penciptaan Manusia: Pertemuan Nafsu, Sperma, Ovum, dan ONG
Lahirnya manusia bukan hanya hasil dari proses biologis, melainkan gabungan dari tiga unsur utama:
- Hawa Nafsu → Dorongan naluriah yang menggerakkan kehidupan.
- Sperma dan Ovum → Unsur fisik yang membawa memori leluhur.
- Energi Kesadaran ONG → Getaran yang menghidupkan tubuh dan membentuk kesadaran individu.
Hawa Nafsu: Pintu Awal Penciptaan
Dalam ajaran ONG, hawa nafsu bukan hanya dorongan biologis, tetapi juga gelombang penciptaan. Segala sesuatu di alam semesta bergerak karena adanya getaran ini. Nafsu yang selaras dengan ONG menjadi sumber penciptaan dan evolusi, sementara nafsu yang tak terkendali dapat mengikat kesadaran dalam siklus penderitaan.
Sperma dan Ovum: Wadah Memori Leluhur
Ketika sperma dan ovum bertemu, bukan hanya DNA yang diwariskan, tetapi juga getaran kesadaran leluhur. Setiap individu membawa warisan memori, baik secara fisik maupun non-fisik. Dalam ajaran ONG, tubuh bukan sekadar materi, tetapi juga alat bagi kesadaran untuk berinteraksi dengan dunia.
Energi Kesadaran ONG: Menghidupkan Tubuh
Saat pembuahan terjadi, ONG mulai mengalir ke dalam janin. Seiring pertumbuhan janin, getaran ini semakin kuat, hingga akhirnya bayi lahir dan menarik napas pertama—momen di mana kesadaran ONG menyatu dengan tubuh sepenuhnya.
2. Perjalanan Hidup: Evolusi Fisik dan Kesadaran
Setelah lahir, manusia mengalami berbagai fase yang masing-masing memiliki tantangan dalam menyelaraskan tubuh, hawa nafsu, dan kesadaran ONG:
- Bayi → Masih sangat dekat dengan ONG, tetapi belum memiliki kendali atas tubuh.
- Anak-anak → Memori leluhur mulai aktif, kesadaran mulai menerima dunia luar.
- Dewasa → Hawa nafsu kembali dominan, bisa menjadi bencana jika tidak selaras dengan ONG.
- Tua → Kesadaran bisa kembali jernih, mendekati sumber asalnya sebelum tubuh mati.
Di sepanjang perjalanan ini, samadi, sesaji, dan puasa dalam ajaran ONG diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara hawa nafsu, tubuh fisik, dan energi kesadaran ONG.
3. Ritual dalam Ajaran ONG: Mengapa Masih Dibutuhkan?
Banyak orang yang menganggap bahwa kesadaran sejati tidak membutuhkan ritual, tetapi dalam ajaran ONG, ritual tetap memiliki tempat karena beberapa alasan:
- Manusia masih memiliki tubuh fisik dan hawa nafsu, yang bisa menjadi penghalang bagi kesadaran jika tidak diarahkan dengan benar.
- Ritual adalah cara untuk menyelaraskan diri dengan gelombang ONG, agar manusia tidak terlalu tenggelam dalam ilusi dunia.
- Tanpa praktik seperti samadi, sesaji, dan puasa, manusia cenderung terjebak dalam pola pikir ego yang membuatnya semakin jauh dari ONG.
Ritual bukanlah keharusan, tetapi alat untuk mempercepat pemahaman tentang keberadaan ONG dalam diri. Seiring waktu, seseorang yang benar-benar menyatu dengan ONG mungkin tidak lagi memerlukan ritual secara eksternal, karena kehidupannya sendiri telah menjadi ritual kesadaran.
4. Kematian: Tubuh Luruh, ONG Tetap Mengalir
Ketika tubuh mati, yang terjadi adalah transformasi, bukan akhir:
- Tubuh kembali ke tanah, melebur dengan unsur-unsur alam.
- Hawa nafsu terurai, kembali ke aliran energi semesta.
- Kesadaran kembali ke ONG, jika tidak lagi terikat pada identitas individu.
Kematian bukanlah pemutusan, tetapi hanya perubahan bentuk keberadaan. Tubuh adalah pantulan, sementara ONG adalah pancaran yang terus ada tanpa awal dan akhir.
5. Kesimpulan: ONG sebagai Aliran Kesadaran Abadi
Ajaran ONG tidak memiliki tujuan akhir, karena eksistensinya sendiri adalah perjalanan yang terus berevolusi.
- Tidak ada mati, karena yang mati hanya tubuh, sedangkan ONG tetap mengalir.
- Tujuan hidup bukanlah tujuan eksternal, tetapi keberjalanan itu sendiri.
- Manusia bukan entitas terpisah, tetapi bagian dari ONG yang terus bergerak.
Maka, memahami kehidupan bukanlah mencari akhir, tetapi mengalir bersama getaran ONG, menyadari bahwa kehidupan, kesadaran, dan penciptaan adalah satu kesatuan yang tidak pernah berhenti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar