Rabu, 16 April 2025

Mereka yang Datang dengan Tujuan Tersembunyi



"Mereka yang Datang dengan Tujuan Tersembunyi"



(Serat Ong tentang Kepalsuan Tujuan)

Banyak yang datang dengan wajah menunduk, membawa bahasa yang sopan, membungkuk dalam-dalam seolah sedang menyerahkan diri.
Mereka berkata:
“Aku tidak mencari dunia, Guru. Aku tidak mengejar kekayaan, tidak pula mengharap kedamaian. Aku hanya ingin belajar, ingin sadar, ingin paham tentang diri dan semesta.”
Tapi bagi mereka yang hidup dalam penghayatan ONG, getaran batin itu bisa terbaca bahkan sebelum ucapan terdengar.

ONG tidak hanya menyaksikan ucapan, tapi arah niat.
Dan niat yang belum jujur, meskipun dikemas dalam kata-kata yang indah, akan tetap mengandung aroma pamrih.
Pamrih itulah yang membuat proses belajar menjadi buntu, meski tampak tekun dari luar.

Sebagian datang karena hidup mereka kacau. Mereka ingin "damai", mereka ingin "tenang", mereka ingin "sembuh".
Lalu mereka kira jalan ONG bisa memberikan itu semua.
Padahal yang mereka kejar bukan ONG—tapi pelarian dari luka.
Mereka menjadikan ajaran ini sebagai tempat bersembunyi, bukan sebagai cermin yang harus dihadapi.

Sebagian lagi ingin rezekinya lancar, rumah tangganya harmonis, usahanya berkembang.
Mereka tidak mengatakannya langsung, tapi getaran dari harapan itu terasa saat mereka kecewa ketika hidupnya tak berubah cepat.
Saat ditanya, mereka menjawab dengan penuh pencitraan:
"Saya hanya ingin berguru."
Tapi batin mereka menyelipkan kontrak rahasia: “Aku mau belajar asal hidupku membaik.”

ONG tidak bisa dibeli dengan niat setengah.
ONG bukan pesugihan yang dibungkus spiritualitas.
ONG adalah penyaksi seluruh semesta—termasuk penyaksi kepalsuan niatmu.
Jika batinmu masih berharap "sesuatu" dari proses belajar ini, maka sadarilah:
Kau belum betul-betul berguru, kau hanya sedang berdagang dengan harapan.

Jalan ONG bukan tempat berlindung dari badai, tapi tempat engkau dibiarkan terbuka di tengah badai agar engkau tahu siapa dirimu sebenarnya.
Jika yang kau cari adalah kenyamanan, maka agama, motivasi, atau hiburan mungkin lebih cocok untukmu.
Karena di jalan ONG, kenyamanan adalah musuh dari kejujuran.

Mereka yang sungguh-sungguh belajar, tidak pernah menuntut hasil.
Karena mereka tahu: keinginan pun harus mati lebih dulu.
Mereka tidak datang membawa tujuan, tapi membawa diri apa adanya.
Mereka tidak cari damai, tapi rela dihancurkan sampai damai itu tumbuh bukan karena dicari, tapi karena dipahami.

Jadi jika saat ini engkau merasa terusik dengan kata-kata ini,
Bersyukurlah.
Itu tanda bahwa masih ada bagian dari dirimu yang belum jujur, dan sedang disentuh oleh cahaya kesadaran.
Jangan marah. Jangan membela diri.
Diamlah. Rasa itu sedang membawamu ke hadapan ONG.

Karena hanya setelah semua niat palsu terbongkar,
Barulah mata hatimu bisa melihat—siapa sejatinya yang sedang kau tuju:
Bukan ketenangan, bukan kekayaan, bukan damai…
Tapi ONG itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...