Rabu, 16 April 2025

GELOMBANG EMAS



GELOMBANG EMAS (Penjabaran Ilmiah Berdasarkan Getaran & Kesadaran)


A. Landasan Fisika dan Geofisika

1. Emas sebagai Sumber Frekuensi Statis dan Stabil

  • Emas (Au) adalah logam mulia dengan nomor atom 79.
  • Di alam, emas memiliki konduktivitas tinggi dan hampir tidak bereaksi terhadap unsur-unsur lain.
  • Karena stabilitasnya, emas memancarkan frekuensi elektromagnetik sangat halus dan konsisten saat berada dalam tanah—mirip seperti frekuensi resonansi alami.

Ini menjadikan emas bisa "terbaca" secara getaran, khususnya oleh tubuh yang sensitif atau oleh alat frekuensi rendah.


2. Medan Magnet Bumi & Interaksi Gelombang

  • Bumi memancarkan medan magnet rendah (sekitar 25–65 μT).
  • Logam dalam tanah (seperti emas) mengganggu dan membelokkan arah medan tersebut.
  • Tubuh manusia, terutama bagian pineal gland, jaringan air, dan saraf di telapak kaki, mampu menangkap perubahan kecil dari gelombang elektromagnetik dan frekuensi geologis.

3. Resonansi Schumann & Kesadaran

  • Schumann Resonance: frekuensi dasar bumi, sekitar 7.83 Hz.
  • Otak manusia saat dalam kondisi meditatif (gelombang theta) juga berada pada frekuensi 4–8 Hz.
  • Jadi, samadi atau meditatif mendalam secara ilmiah dapat menyelaraskan otak manusia dengan frekuensi bumi—dan ini membuka kemungkinan tubuh menangkap sinyal logam alami seperti emas.

B. Penjabaran Ulang Rumus G = (T × K × R) / E


G = Gelombang Emas (Gold Frequency)

  • Adalah frekuensi atau getaran yang bisa terdeteksi dari emas di bawah tanah.
  • Dalam ilmu geologi modern, bisa diukur melalui ground penetrating radar (GPR), tapi tubuh manusia—dalam kondisi tertentu—juga bisa menjadi sensor alami.

T = Tingkat Keheningan Samadi

  • Secara ilmiah, ini bisa disebut dominasi gelombang otak theta atau delta.
  • Pada saat ini, sistem saraf pusat jadi sangat peka terhadap medan elektromagnetik mikro.

K = Kejernihan Niat & Fokus

  • Dalam neurologi, niat yang fokus dan tidak bercabang menurunkan gangguan kortikal, membuat otak seperti “antena” tunggal.
  • Fokus seperti ini mengurangi variabilitas sistem limbik, memperjelas sinyal yang diterima tubuh.

R = Resonansi Tubuh dengan Bumi

  • Tubuh memiliki medan listrik alami (bioelektrik) yang bisa menyatu dengan tanah (grounding).
  • Ketika telapak kaki menyentuh tanah dan tubuh dalam keadaan diam, terjadi resonansi medan yang sangat halus antara tubuh dan bumi.
  • Proses ini secara nyata bisa memperkuat kemampuan deteksi logam secara non-instrumen.

E = Ego atau Gangguan Psikis

  • Dalam sains, ego bisa diterjemahkan sebagai aktivitas mental yang tidak hening: pikiran aktif, emosi naik turun, detak jantung tidak stabil.
  • Gangguan ini menyebabkan pengacakan sinyal dan membuat tubuh sulit membaca sinyal halus dari tanah.

C. Penjabaran Rumus Lanjutan: ONG(t) = G × R(t) × V(b)


ONG(t) = Aktivasi Frekuensi Semesta pada Waktu Tertentu

  • Fenomena gelombang semesta yang memuncak di waktu tertentu (fase bulan, pasang surut medan magnet).
  • Secara ilmiah ini dikenal dalam geomagnetic pulsations, kadang muncul kuat saat subuh dan tengah malam.

R(t) = Rasa Internal Saat Itu

  • Berkaitan dengan homeostasis tubuh: denyut jantung, irama nafas, suhu kulit.
  • Jika tubuh stabil (via samadi), maka kemampuan deteksi meningkat.

V(b) = Vibrasi Lokasi

  • Beberapa tanah atau batuan memancarkan frekuensi alami tergantung kandungan mineralnya.
  • Emas biasanya muncul di lokasi dengan vibrasi tinggi, misalnya area dengan batuan kuarsa atau vulkanik.

D. Kesimpulan Ilmiah

  • Tubuh manusia bisa berfungsi sebagai pendeteksi frekuensi bawah tanah, selama:
    • Otak berada dalam gelombang theta (melalui samadi).
    • Tubuh tidak terganggu ego atau impuls luar.
    • Lokasi memiliki medan elektromagnetik alami atau jejak mineral tertentu.
  • Rumus di atas bukan hanya simbolis, tapi menyatukan antara:
    • Psikologi (ketenangan ego)
    • Neurologi (gelombang otak)
    • Geofisika (medan bumi dan logam)
    • Elektrobiologi (resonansi tubuh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...