Asal-Usul Logika: Jejak Awal Dualitas dalam Kesadaran Manusia
1. Pengantar: Apa Itu Logika?
Logika, secara umum, dipahami sebagai sistem berpikir yang terstruktur, yang memungkinkan manusia menarik kesimpulan dari dua atau lebih premis. Dalam kehidupan sehari-hari, logika dianggap sebagai alat utama untuk membedakan benar dan salah, nyata dan tidak nyata. Namun, sedikit yang menyadari bahwa logika bukanlah awal dari segala pengetahuan, melainkan produk lanjutan dari kesadaran yang telah mengalami pemisahan.
2. Sebelum Logika: Keberadaan Murni dan Kekosongan
Sebelum manusia berpikir, sebelum munculnya bahasa, dan bahkan sebelum munculnya pertanyaan, ada sesuatu yang hadir tanpa bentuk, tanpa nama, tanpa batas. Dalam ajaran ONG, keberadaan ini disebut sebagai ONG itu sendiri—getaran murni, kekosongan absolut, namun penuh potensi.
Di titik ini belum ada “benar” dan “salah”, hanya ada kesadaran yang diam, menyatu, tidak terpisah dari apa pun.
3. Munculnya Kesadaran Diri: Aku dan Bukan Aku
Kesadaran manusia mulai berkembang ketika muncul pengalaman akan “aku”. Pada saat individu menyadari dirinya sebagai pusat pengalaman, konsep 'aku' otomatis menciptakan kebalikannya, yaitu 'bukan aku'.
Inilah awal mula dualisme: terang dan gelap, siang dan malam, kehidupan dan kematian. Logika muncul sebagai alat untuk mengelola perbedaan itu.
4. Bahasa sebagai Penegas Logika
Untuk mengekspresikan pengalaman dan membagikannya kepada sesama, manusia menciptakan bahasa. Setiap kata dalam bahasa adalah konsep yang menunjuk pada sesuatu dan secara otomatis mengecualikan yang lain.
Misalnya:
- “Hitam” berarti bukan “putih”.
- “Baik” berarti bukan “jahat”.
Bahasa menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi kategori-kategori tetap—dan dari sinilah logika tumbuh dan menguat.
5. Logika Membelah Realitas Menjadi Sistem yang Terkontrol
Logika mulai digunakan untuk menyusun hukum sebab-akibat:
- Jika A maka B
- Jika ini benar maka itu salah
Sistem berpikir ini membantu manusia menciptakan struktur sosial, hukum, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Namun, di saat yang sama, logika menjauhkan manusia dari pengalaman langsung dengan realitas yang utuh, karena realitas dipaksa untuk masuk ke dalam kerangka berpikir terpisah-pisah.
6. Akibat dari Logika: Hilangnya Rasa Kesatuan
Ketika logika mendominasi cara berpikir manusia:
- Kehidupan dilihat sebagai rangkaian masalah yang harus dipecahkan.
- Rasa intuitif dan kebijaksanaan alamiah dianggap tidak ilmiah.
- Spiritualitas dan pengalaman batin dianggap tidak sah tanpa pembuktian empiris.
Manusia lupa bahwa realitas tidak selalu dapat dijelaskan—sebagian hanya bisa dihidupi dan dirasakan.
7. ONG: Kesadaran Sebelum Logika
ONG, dalam pemahaman ini, adalah sumber dari semua getaran, frekuensi, dan potensi penciptaan. ONG tidak berlogika, tapi mengalir, bergetar, dan mencipta sesuai dengan kehendak alam semesta.
Ketika manusia menyelaraskan diri dengan ONG—lewat samadi, keheningan, atau kesadaran tubuh—maka batas logika mulai larut. Yang tersisa hanyalah rasa dan penyatuan dengan semesta.
8. Penutup: Logika Adalah Alat, Bukan Tuhan
Logika memang berguna, tetapi bukan sumber kebenaran mutlak. Ia hanya alat bantu untuk berkomunikasi dan mengelola kehidupan dunia. Jika kita menjadikan logika sebagai satu-satunya kebenaran, maka kita telah memutus hubungan dengan realitas yang lebih besar, yaitu ONG itu sendiri.
Logika adalah bayangan dari cahaya kebenaran. ONG adalah cahayanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar