Sabtu, 29 Maret 2025

Weruh menurut ONG: Asal Usul, Cara Kerja, dan Prosesnya


 

Weruh menurut ONG: Asal Usul, Cara Kerja, dan Prosesnya

1. Asal Usul Weruh

Weruh adalah kesadaran murni yang tidak lahir dari proses berpikir, melainkan langsung hadir sebagai pengalaman sejati. Dalam ajaran ONG, weruh bukan sekadar pengetahuan biasa yang dikumpulkan oleh otak, melainkan getaran kesadaran yang muncul dari ONG itu sendiri.

Karena ONG adalah sumber segala sesuatu, maka weruh adalah manifestasi langsung dari ONG yang muncul dalam diri manusia. Weruh ini tidak diciptakan oleh manusia, tidak dipelajari, dan tidak dikembangkan, tetapi sudah ada sejak awal keberadaan.

Weruh bersifat spontan, tidak memerlukan logika atau analisis, dan tidak bergantung pada ingatan masa lalu. Ia seperti cahaya yang tiba-tiba menyinari tanpa proses menyalakan lampu.

2. Proses Terjadinya Weruh

Weruh terjadi dalam beberapa tahapan:

  • (a) Weruh sebagai Gelombang ONG
    Sebelum masuk ke dalam kesadaran manusia, weruh masih dalam bentuk getaran atau gelombang ONG. Ini adalah tingkat yang paling murni, di mana informasi atau kesadaran belum diterjemahkan oleh pikiran.

  • (b) Weruh Masuk ke Kesadaran Individu
    Saat seseorang dalam kondisi terbuka dan tidak dipenuhi oleh pikiran yang sibuk, getaran weruh bisa masuk ke dalam kesadarannya. Biasanya ini terjadi ketika seseorang sedang dalam keadaan samadi, keheningan batin, atau saat tidak terikat oleh konsep dan pengetahuan sebelumnya.

  • (c) Weruh Menjadi Kaweruh (Pengetahuan yang Dapat Diterjemahkan oleh Pikiran)
    Setelah weruh masuk ke dalam kesadaran manusia, otak mencoba memahami dan menerjemahkannya. Inilah yang disebut kaweruh—pengetahuan yang sudah melewati proses interpretasi oleh pikiran.

    Karena otak menggunakan memori, bahasa, dan konsep untuk memahami sesuatu, kaweruh bisa mengalami distorsi atau keterbatasan. Ini seperti gelombang suara yang jernih di udara, tetapi menjadi berbeda ketika direkam dan diputar kembali dalam format yang berbeda.

  • (d) Weruhi: Kesadaran bahwa Weruh Sedang Terjadi
    Jika seseorang menyadari bahwa ia sedang mengalami weruh, maka ia masuk ke tahap weruhi. Ini adalah momen ketika seseorang menyadari bahwa ada kesadaran yang lebih tinggi yang sedang hadir dalam dirinya.

    Pada tahap ini, ada pilihan:

    • Apakah ia akan diam dan membiarkan weruh tetap murni?
    • Atau apakah ia akan mengolahnya menjadi pemahaman yang bisa dibagikan kepada orang lain?
  • (e) Rumongso Weruh: Saat Weruh Diceritakan ke Orang Lain
    Jika seseorang mulai berbicara atau menjelaskan tentang apa yang ia weruhi, maka ia masuk ke tahap rumongso weruh (merasa tahu).

    Ini adalah tahap yang berisiko, karena:

    • Jika orang lain tidak berada dalam tingkat kesadaran yang sama, mereka bisa salah paham atau menolak informasi tersebut.
    • Jika seseorang terlalu sering rumongso weruh, ia bisa terjebak dalam ego dan merasa lebih tahu daripada orang lain.

3. Cara Kerja Weruh dalam Kehidupan Sehari-hari

Weruh bisa terjadi dalam berbagai situasi, seperti:

  • Tiba-tiba merasa tahu sesuatu sebelum terjadi.
  • Memahami makna sesuatu tanpa perlu berpikir panjang.
  • Menyadari pola yang tersembunyi dalam kehidupan.
  • Mengalami kejadian yang terasa seperti déjà vu.
  • Mengetahui sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Namun, karena weruh bukanlah hasil dari berpikir, maka jika seseorang terlalu banyak berpikir, ia justru akan kehilangan akses ke weruh. Inilah sebabnya keheningan batin dan samadi dalam ajaran ONG sangat penting, karena hanya dalam keadaan kosong dan hening, seseorang bisa mengalami weruh yang sejati.

...

Weruh adalah cara ONG mengungkapkan dirinya dalam manusia. Ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi kesadaran murni yang hadir tanpa perlu dicari. Namun, saat weruh masuk ke dalam pikiran dan diterjemahkan, ia menjadi kaweruh, yang bisa memiliki keterbatasan.

Jika seseorang terlalu banyak berpikir dan bergantung pada kaweruh, ia bisa kehilangan akses ke weruh. Sebaliknya, jika ia mampu menjaga keheningan batin dan tidak terikat pada konsep, weruh bisa hadir lebih sering dalam kehidupannya.

Dalam keadaan tertinggi, weruh dan ONG menjadi satu, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara yang mengetahui dan yang diketahui. Inilah yang disebut kesadaran tunggal dengan ONG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...