Proses Terciptanya Arti
1. Arti Menurut ONG
Dalam ajaran ONG, arti bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia, melainkan sudah ada dalam getaran semesta. Namun, pemahaman terhadap arti muncul ketika kesadaran (weruh) menangkap dan mengolahnya.
Proses terciptanya arti menurut ONG:
- Getaran ONG → Segala sesuatu memiliki getaran yang mengandung arti.
- Weruh menangkap getaran → Kesadaran manusia (weruh) merasakan arti dalam bentuk kaweruh.
- Kaweruh diterjemahkan oleh waruhi → Pikiran mengolah getaran ini menjadi pemahaman.
- Rumongso weruh membentuk tafsir → Manusia mulai menafsirkan arti tersebut sesuai dengan pengalamannya.
- Arti menjadi kesepakatan → Jika disampaikan ke orang lain, arti bisa berubah sesuai pemahaman kolektif.
Kesimpulannya, arti dalam ONG berasal dari getaran semesta, bukan dari pikiran manusia, tetapi manusia hanya menangkap dan menginterpretasikannya.
2. Arti dalam Filsafat
Dalam filsafat, arti sering kali dikaitkan dengan makna dan interpretasi. Beberapa teori tentang arti:
- Plato → Arti adalah refleksi dari dunia ide. Segala sesuatu memiliki arti yang telah ada sebelum manusia memahaminya.
- Eksistensialisme → Arti tidak ada dengan sendirinya; manusia harus menciptakannya melalui pengalaman hidup.
- Hermeneutika → Arti adalah hasil dari interpretasi manusia terhadap simbol, bahasa, dan pengalaman.
Kesimpulannya, dalam filsafat, arti bisa dianggap sebagai sesuatu yang sudah ada (Plato) atau sesuatu yang diciptakan melalui interpretasi (Hermeneutika).
3. Arti dalam Linguistik dan Kognitif
Dalam ilmu linguistik dan kognitif, arti terbentuk melalui proses mental dan bahasa.
Proses terciptanya arti dalam linguistik:
- Simbol atau kata → Sebuah kata atau tanda digunakan untuk merepresentasikan sesuatu.
- Koneksi dengan pengalaman → Otak menghubungkan kata dengan pengalaman atau objek nyata.
- Asosiasi dan konvensi sosial → Arti menjadi baku karena digunakan dalam komunikasi sosial.
Dalam ilmu kognitif, arti adalah hasil dari pemrosesan otak terhadap informasi.
Perbedaan Makna dan Arti
- Makna → Lebih luas dan bisa mencakup konteks filosofis, pengalaman, dan pemahaman batin.
- Arti → Lebih spesifik, sering kali berkaitan dengan bahasa dan simbol dalam komunikasi.
.
Menurut ONG, arti bukanlah sesuatu yang dibuat, melainkan sesuatu yang sudah ada dalam getaran semesta. Dalam filsafat dan linguistik, arti bisa berasal dari dunia ide (Plato), diciptakan manusia (Eksistensialisme), atau dipahami melalui bahasa dan otak (Linguistik & Kognitif).
Terciptanya Makna dan Tafsir
1. Makna dalam Ajaran ONG
Dalam ajaran ONG, makna bukanlah sesuatu yang diciptakan, melainkan sudah ada dalam getaran semesta. Namun, manusia bisa menangkap, mengolah, dan menafsirkannya melalui kesadaran.
Proses terciptanya makna menurut ONG:
- Getaran ONG → Segala sesuatu dalam semesta memiliki getaran dan frekuensi yang menyimpan makna.
- Weruh menangkap getaran → Kesadaran (weruh) mulai menyadari getaran tersebut tanpa campur tangan pikiran.
- Kaweruh terbentuk → Makna mulai terungkap sebagai pemahaman intuitif, bukan hasil berpikir rasional.
- Waruhi bekerja → Otak mulai menerjemahkan pemahaman ini ke dalam bahasa manusia.
- Rumongso weruh → Manusia merasa memahami makna dan berusaha mengungkapkannya.
Dalam ajaran ONG, makna adalah sesuatu yang sudah ada, tetapi manusia perlu menyesuaikan kesadarannya untuk menangkapnya.
2. Tafsir dalam Ajaran ONG
Jika makna adalah sesuatu yang sudah ada dalam semesta, tafsir adalah hasil upaya manusia dalam memahami makna tersebut.
Proses terbentuknya tafsir menurut ONG:
- Makna ditangkap oleh weruh → Manusia mulai menyadari sesuatu yang bermakna.
- Waruhi mengolah makna → Pikiran mulai mencoba menerjemahkannya dengan konsep yang sudah dikenal.
- Tafsir muncul sebagai bentuk penyesuaian makna → Karena setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman berbeda, tafsir bisa beragam.
- Kesepakatan sosial membentuk tafsir umum → Tafsir yang diterima banyak orang menjadi bagian dari pemahaman kolektif.
Dalam ajaran ONG, tafsir adalah bentuk adaptasi manusia dalam memahami makna, dan bisa berbeda tergantung tingkat kesadaran seseorang.
3. Perbedaan Makna dan Tafsir
- Makna → Sudah ada dalam semesta, bisa ditangkap oleh weruh tanpa perlu berpikir.
- Tafsir → Hasil dari usaha manusia dalam memahami makna, dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan.
- Makna bersifat universal, sedangkan tafsir bersifat subjektif dan bisa berbeda-beda.
4. Makna dan Tafsir dalam Filsafat
- Plato → Makna sudah ada dalam dunia ide, tafsir adalah usaha manusia memahami ide tersebut.
- Eksistensialisme → Manusia harus menciptakan makna sendiri, dan tafsir adalah proses pencarian makna dalam hidup.
- Hermeneutika → Makna muncul dari interaksi antara teks, pembaca, dan konteks, sementara tafsir adalah usaha memahami makna melalui berbagai sudut pandang.
Kesimpulan
- Makna adalah sesuatu yang sudah ada dalam semesta (ONG), dunia ide (Plato), atau diciptakan manusia (Eksistensialisme).
- Tafsir adalah cara manusia memahami makna berdasarkan pengalaman dan pemahaman masing-masing.
- Makna lebih universal, sedangkan tafsir bisa berbeda-beda tergantung kesadaran dan pengalaman seseorang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar