🪔 Siapa yang Dipanggil oleh Kesadaran Dirinya Sendiri?
Telaah Psikologis dan Spiritual Jawa tentang Panggilan Eling
🌿 Pendahuluan: Ketika Hati Tergetar Tanpa Sebab
Pernahkah kamu mendengar suatu kata, wejangan, atau bahkan pertemuan dengan seseorang yang membuat batinmu tiba-tiba bergetar?
Entah merasa tersentuh, bingung, bahkan marah — seolah ada sesuatu yang diganggu dari dalam dirimu sendiri.
Itulah saat kesadaranmu dipanggil oleh dirinya sendiri.
Fenomena ini tampak sederhana, namun sesungguhnya ia adalah gerak halus kesadaran yang sedang bangkit dari lapisan ketidaktahuan menuju cahaya pengenalan diri.
Dalam psikologi modern hal ini dikenal sebagai reaksi bawah sadar terhadap pemicu eksistensial,
sementara dalam spiritual Jawa disebut “swara eling” — panggilan sang rasa sejati.
🧠 Bagian I — Penjelasan Psikologis: Ketika Ego Tidak Siap Dihapus
Dari sudut pandang psikologi, manusia memiliki dua pusat diri:
- Ego — identitas yang kita bentuk lewat pengalaman, nama, status, keyakinan, dan peran sosial.
- Kesadaran sejati — ruang sunyi di balik pikiran yang sekadar menyaksikan semua itu.
Ketika seseorang mendengar kebenaran atau wejangan yang melampaui konsep dirinya,
ego merasa terancam. Ia takut kehilangan posisi, takut tidak berarti, takut “tidak ada lagi yang aku.”
Maka muncullah gejala batin:
- Rasa bingung atau tidak nyaman.
- Sakit hati terhadap orang yang menyampaikan.
- Emosi dan dorongan untuk membantah.
Dalam psikologi kognitif, ini disebut disonansi kognitif — ketegangan mental ketika keyakinan lama berbenturan dengan fakta baru.
Tetapi dalam kacamata batin, itu adalah suara kesadaran yang mulai mengetuk dari balik dinding ego.
Bukan orang lain yang membuat kita gelisah — melainkan bagian terdalam dari diri kita yang berkata,
“Bangunlah, sudah waktunya melihat lebih dalam dari pikiranmu sendiri.”
🕯️ Bagian II — Penjelasan Spiritual Jawa: “Sing Eling Nyeluk Sing Durung Eling”
Dalam filsafat Jawa, setiap manusia adalah ciptaan sekaligus percikan dari Sangkan Paraning Dumadi —
Sumber Kehidupan yang disebut juga Kang Murbeng Urip.
Maka di dalam setiap diri manusia ada bagian kecil dari kesadaran besar itu.
Ketika seseorang mulai merasa terusik oleh wejangan, atau tiba-tiba merenung tanpa sebab,
itulah tanda bahwa “sing eling nyeluk sing durung eling” —
kesadaran yang lebih tinggi sedang memanggil bagian dirinya yang masih tertidur.
Leluhur menyebutnya “pundhutan rasa”, yakni saat getaran batin mulai mengguncang dinding kebodohan halus (awidya).
Seseorang yang belum siap akan mengira ia sedang diserang, padahal ia sedang dibangunkan.
“Kahanan ora tau salah, mung rasa sing durung jumbuh.”
— (Keadaan tak pernah salah, hanya rasa yang belum menyatu.)
Kesadaran sejati tidak datang dari luar. Ia bangun dari dalam,
dan memakai segala bentuk kejadian, pertemuan, bahkan pertentangan,
sebagai cermin untuk mengenal dirinya sendiri.
🌸 Bagian III — Mengapa Banyak yang “Belum Siap”?
Karena setiap kesadaran memiliki irama waktu dan kadar cahaya yang berbeda.
Ibarat mata yang baru bangun dari gelap —
jika langsung disorot cahaya matahari, yang terasa bukan pencerahan tapi silau.
Begitu pula jiwa.
Ia butuh penyesuaian agar mampu menerima cahaya tanpa menolaknya.
Maka setiap rasa “sakit hati”, “bingung”, atau “marah” ketika mendengar wejangan kebenaran,
sesungguhnya bukan tanda kegagalan spiritual,
tetapi tahapan alami dari penyadaran.
“Saben rasa nduwe wektune, saben eling nduwe dalane.”
(Setiap rasa punya waktunya, setiap kesadaran punya jalannya.)
Dalam proses itu, peran orang yang sudah lebih sadar bukan untuk menggurui,
melainkan menjadi cermin bening tempat orang lain bisa melihat dirinya sendiri.
Kata-kata yang lembut dan diam yang jernih sering kali lebih mujarab daripada penjelasan panjang.
🌾 Bagian IV — Panggilan Kesadaran: Bukan Ajakan, Tapi Pulangan
Ketika seseorang mulai sadar bahwa ia sedang “dipanggil”,
itu bukan panggilan menuju sesuatu di luar dirinya.
Itu adalah panggilan pulang ke asal,
ke ruang diam tempat semua pikiran lahir dan lenyap.
Dalam bahasa yogi disebut Atman menuju Brahman.
Dalam bahasa Jawa disebut urip bali marang Sangkan Paraning Dumadi.
Dalam bahasa psikologi disebut individuasi,
proses ketika diri kecil menyatu dengan kesadaran universal.
Maka pertanyaan sejatinya bukan,
“Siapa yang memanggilku?”
melainkan,
“Siapa yang mendengarkan panggilan itu?”
Karena ketika kesadaran sejati bangkit,
yang memanggil dan yang dipanggil adalah satu dan sama.
🌤️ Bagian V — Menjadi Cermin, Bukan Penguasa Makna
Bagi mereka yang sudah mulai menyadari panggilan batin ini,
tugasnya bukan memaksa orang lain untuk ikut “terbangun”.
Tugasnya adalah menjaga kesejukan ruang batin,
agar orang lain merasa aman untuk bertanya tanpa takut disalahkan.
Sebagaimana ajaran luhur Jawa mengatakan:
“Wong eling ora ngajar, mung ngelingake.”
(Orang yang sadar tidak mengajar, hanya mengingatkan.)
Ketika kita menjadi cermin yang jernih,
setiap orang akan melihat wajah kesadarannya sendiri di dalam diri kita.
Dan di sanalah kebangkitan sejati terjadi — tanpa debat, tanpa paksaan.
🌺 Penutup: Kesadaran Tak Pernah Memanggil Sia-sia
Kesadaran sejati tidak terburu-buru, tidak memaksa,
dan tidak datang hanya kepada orang suci —
ia mengetuk setiap hati, setiap hari, lewat kejadian sekecil apa pun.
Bagi yang mendengarnya, dunia tiba-tiba menjadi terang,
bukan karena dunia berubah,
tetapi karena mata hatinya telah terbuka.
“Sing tangi ora perlu diundang, cukup ngrungu swarane urip.”
(Yang bangun tidak perlu dipanggil, cukup mendengar suara kehidupan.)
🌿 Kesimpulan
| Perspektif | Penjelasan |
|---|---|
| Psikologis | Ego merasa terguncang karena kebenaran baru bertentangan dengan identitas lamanya. Reaksi marah atau bingung adalah tanda awal kesadaran sedang menembus lapisan bawah sadar. |
| Spiritual Jawa | “Sing eling nyeluk sing durung eling” – kesadaran sejati sedang membangunkan dirinya sendiri melalui pengalaman hidup dan pertemuan antar manusia. |
| Makna Praktis | Bila seseorang bingung atau menolak kebenaran, jangan dihakimi — rangkul dengan welas. Ia sedang dalam proses pulang ke dirinya sendiri. |
🪔 “Kesadaran sejati ora teka saka pangerten, nanging saka eling sing wis bali marang sejatine urip.”
(Kesadaran sejati tidak datang dari pemahaman, tetapi dari kesadaran yang sudah kembali pada hakikat kehidupan.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar