Senin, 05 Mei 2025

Tanpa Aran


 


Tanpa Aran

(Kisah perjalanan tanpa nama, tanpa jejak, tanpa tujuan)

Tidak ada yang tahu kapan ia datang.
Tidak ada yang tahu dari mana ia datang.
Dan sebenarnya,
ia sendiri tidak menganggap dirinya datang.

Orang-orang menyebutnya dengan banyak nama,
tapi ia hanya tersenyum.
Karena baginya, nama hanyalah bunyi,
penanda sementara,
yang tak bisa menjangkau apa yang tak pernah terpisah.

Mereka berkata,
“Engkau bijak.”
Ia menjawab pelan,
“Kalau bijak artinya diam,
maka aku diam.
Kalau bijak artinya bicara,
maka aku hanya menirukan angin.”

Ia berjalan tanpa tujuan.
Bukan karena tak tahu arah,
tapi karena arah itu sendiri tak perlu dicari.
Setiap langkahnya bukan menuju,
bukan meninggalkan.
Hanya melangkah,
seperti air mengalir,
seperti awan berpindah,
seperti bayangan bergeser.

Orang-orang bertanya,
“Kenapa engkau tidak menetap?”
Ia menjawab pelan,

“Kalau aku menetap, aku menjadi batu.
Kalau aku mengalir, aku menjadi sungai.
Aku hanya mengikuti arus yang tak pernah aku buat.”

Ia pernah duduk di bawah pohon tua.
Daunnya tinggal sedikit,
batangnya bengkok,
akar-akarnya mencengkeram tanah kering.

Ia menatap pohon itu lama sekali.
Lalu berkata pada dirinya sendiri:

“Pohon ini tidak pernah ingin jadi pohon lain.
Ia hanya menjadi pohon.”

Orang-orang datang padanya membawa kitab, membawa pertanyaan, membawa keluhan.
Mereka ingin jawaban.
Mereka ingin kepastian.
Mereka ingin jalan pintas.

Tanpa Aran hanya menatap mereka,
seperti menatap sungai yang mengalir sendiri.
Kadang ia hanya tersenyum.
Kadang ia hanya diam.

Karena ia tahu:
jawaban bukan terletak di kata.
jawaban bukan terletak di suara.
jawaban lahir di tempat di mana tanya berhenti.

Orang berkata,
“Kalau begitu engkau sombong, engkau tak mau berbagi.”
Ia hanya menunduk.
Tidak membela, tidak menolak.
Karena ia tahu:

“Sombong itu ketika aku merasa harus menjelaskan.
Rendah hati itu ketika aku rela dianggap tidak memberi.”

Hari-harinya sederhana.
Kadang ia menulis satu kalimat di tanah.
Lalu menghapusnya dengan tangannya sendiri.
Karena ia tahu:
“Setiap kata lahir untuk hilang.
Jika ia menetap, ia jadi beban.”

Ia tidur di tikar lusuh,
bangun dengan sinar matahari menembus celah-celah atap.
Kadang makan, kadang puasa,
tapi tak pernah merasa lebih,
tak pernah merasa kurang.

“Kenyang atau lapar hanya soal tubuh.
Jiwa itu sudah penuh sejak awal.”

Orang bertanya lagi,
“Kenapa engkau tidak membangun rumah? Kenapa engkau tidak menabung? Kenapa engkau tidak mengumpulkan?”
Ia hanya menjawab:

“Apa yang dikumpulkan akan hilang.
Apa yang disimpan akan dimakan waktu.
Apa yang dijaga akan dilepas.
Aku hanya menikmati apa yang lewat,
bukan apa yang harus aku tahan.”

Mereka bertanya lagi,
“Kalau semua dilepas, apa gunanya hidup?”
Tanpa Aran tersenyum,

“Gunanya hidup? Hidup itu sendiri sudah guna.
Menyadari hidup, itulah gunanya.”

Lalu mereka terdiam.
Ada yang marah,
ada yang merasa ditipu,
ada yang tetap bingung.

Ia berjalan lagi.
Tanpa tanda, tanpa peta, tanpa janji.
Tapi kemanapun ia pergi,
ada yang merasa disentuh.
Ada yang merasa diingatkan.
Ada yang merasa terdiam bersamanya,
meski tak pernah bicara langsung.

Karena ia bukan guru, bukan pemimpin, bukan nabi, bukan ahli.
Ia hanya Tanpa Aran,
yang hadir sebentar,
hilang pelan,
meninggalkan jejak yang tak terlihat,
meninggalkan kata yang tak terdengar,
tapi membekas di hati yang diam.

Dan pada suatu malam,
ketika langit tanpa bulan,
angin tanpa suara,
Tanpa Aran duduk sendiri,
menghadap kosong.

Ia menutup matanya,
lalu berbisik pada kesadaran yang selalu ada:

“Tidak ada yang harus aku capai.
Tidak ada yang harus aku genggam.
Tidak ada yang harus aku lepaskan.
Karena keberadaan ini sudah lengkap,
bahkan tanpa aku.”

Dan ia tersenyum.
Bukan karena senang, bukan karena lega.
Tapi karena kehadiran itu sendiri adalah senyum.

Ia pun perlahan larut ke dalam keheningan.
Bukan pergi, bukan hilang.
Tapi menyatu dengan semua,
tanpa perlu menjadi apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Logika Rasa dan Paradoks: Wejangan Leluhur Jawa

Logika Rasa dan Paradoks : Wejangan Leluhur Jawa --- 1. Dua Jalan Berpikir Manusia Manusia sejak lahir telah dibekali dua jalan untuk memaha...