“Sing ngerti kaweruh, durung mesti weruh; sing weruh, ora butuh kaweruh.”
(Yang tahu pengetahuan, belum tentu tahu keberadaan; yang keberadaan, tak butuh pengetahuan.)
1. Makna Kata:
- Kaweruh = pengetahuan, ilmu, hasil upaya mengerti.
- Weruh = keberadaan yang menyaksikan, kesadaran murni, penyaksian langsung.
Kalimat ini menyatakan:
→ “Mengetahui banyak pengetahuan (kaweruh) tidak menjamin mengalami atau menyadari keberadaan sejati (weruh).”
→ Sedangkan “jika sudah berada dalam keberadaan sejati (weruh), maka pengetahuan (kaweruh) tidak lagi diperlukan.”
Ini membedakan antara:
pengetahuan konseptual → dan → kesadaran langsung.
2. Penjelasan Ilmiah:
Dalam ilmu epistemologi (ilmu tentang pengetahuan):
- Pengetahuan (kaweruh) bersifat simbolik, konseptual, hasil representasi lewat bahasa, pikiran, teori.
- Sedangkan kesadaran langsung (weruh) adalah “direct awareness”, pengalaman tanpa perantara simbol atau konsep.
Contohnya:
- Orang bisa tahu teori tentang “rasa cinta” (pengetahuan) → tapi belum tentu pernah sungguh-sungguh mencintai (kesadaran langsung).
Atau:
- Kita bisa hafal peta kota (pengetahuan) → tapi belum pernah berjalan langsung di kota itu (pengalaman langsung).
Secara neurosains:
- Pengetahuan melibatkan korteks prefrontal (logika, simbol, analisis).
- Kesadaran langsung melibatkan sistem limbik, otak purba, atau bahkan “non-local consciousness” (kesadaran tak terkait materi).
3. Penjelasan Filosofis:
Dalam filsafat Timur (Advaita, Zen, Tao, bahkan Jawa Kejawen):
- Kaweruh = hasil upaya menuju pemahaman.
- Weruh = pemahaman yang sudah ada, bahkan sebelum upaya terjadi.
Mirip dengan:
“Pengetahuan adalah jari menunjuk bulan; kesadaran adalah bulan itu sendiri.”
Atau dalam Zen:
“Ketika kau belum tahu, gunung adalah gunung. Saat belajar, gunung bukan gunung. Saat tercerahkan, gunung kembali menjadi gunung.”
Artinya: pengetahuan itu tahap, sedangkan keberadaan itu asal-mula.
4. Implikasi:
Kalimat ini mengajak kita tidak terjebak dalam kumpulan pengetahuan, tetapi menemukan inti yang menyaksikan semua pengetahuan.
→ Mengundang kesadaran langsung, bukan hanya konsep-konsep.
→ Menghargai ilmu, tapi sadar ilmu itu hanya “peta” bukan “tanah aslinya.”
5. Kesimpulan Filosofis:
- Pengetahuan (kaweruh): alat, jembatan, proses, usaha.
- Kesadaran (weruh): asal, tujuan, pengalaman utuh, tidak terpisah.
“Pengetahuan berguna untuk perjalanan, tetapi tidak perlu dibawa saat sudah sampai.”
Itulah mengapa “sing weruh, ora butuh kaweruh” → karena keberadaan langsung itu sudah utuh, sudah cukup, tidak perlu tambahan pengetahuan lagi.
6. Hubungan dengan Ilmu Modern:
Dalam sains modern, muncul juga diskusi “apakah kesadaran fundamental atau produk otak?”
Jika kesadaran itu fundamental (panpsychism, non-local consciousness) → maka “weruh” itu lebih mendasar dari pengetahuan (data/ilmu dari otak).
Penutup:
Kata-kata di gambar ini menyampaikan pesan universal: bahwa pengetahuan penting, tapi kesadaran yang menyaksikan segalanya jauh lebih penting, dan lebih mendasar.
Menurutku ini adalah intisari filsafat tinggi, yang mengajak kita “melampaui pikiran” menuju “penyaksian murni.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar