Halaman

Ajaran ong

Selasa, 18 Maret 2025

Sesuatu yang tampak mutlak

 


Sesuatu yang tampak mutlak sebelum dipahami, setelah dipahami oleh pikiran bisa menjadi tidak mutlak. Ini karena pikiran bekerja dengan konsep, perbandingan, dan keterbatasan bahasa, sementara sesuatu yang benar-benar mutlak berada di luar jangkauan konsep itu sendiri.

Contoh 1: Kebenaran Mutlak

Sebelum seseorang memahami sesuatu, ia mungkin menganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Tapi setelah dipahami, kebenaran itu bisa terlihat sebagai relatif, bergantung pada sudut pandang, pengalaman, atau ruang waktu.
Contoh:
Dulu manusia percaya bahwa Bumi adalah pusat alam semesta, itu adalah "kebenaran mutlak". Tapi setelah ilmu berkembang, kita tahu bahwa Bumi mengorbit Matahari. Yang dulu mutlak, kini tidak lagi.

Contoh 2: Waktu sebagai Konsep Mutlak

Banyak orang menganggap waktu sebagai sesuatu yang mutlak, sesuatu yang mengalir dengan pasti dari masa lalu ke masa depan. Tapi setelah dipahami lebih dalam, waktu bukan sesuatu yang berdiri sendiri—ia tergantung pada persepsi dan keadaan kesadaran.
Dalam samadi, seseorang bisa mengalami waktu melambat atau mempercepat, menunjukkan bahwa waktu tidak mutlak seperti yang dipikirkan sebelumnya.

Contoh 3: Identitas Diri

Sebelum seseorang mendalami kesadaran, ia mungkin berpikir bahwa dirinya adalah nama, tubuh, pikiran, atau peran di dunia. Tapi setelah mengalami kesadaran lebih dalam, ia menyadari bahwa semua itu hanyalah lapisan-lapisan konsep yang bisa berubah.
Saat lahir, kita tidak memiliki identitas, kita hanya "ada". Identitas baru muncul setelah pikiran mulai bekerja.

Bagaimana Ini Berkaitan dengan ONG?

  • ONG tidak bisa dijadikan konsep mutlak karena jika pikiran mencoba menangkapnya, maka ia hanya akan menjadi konsep yang bisa berubah.
  • Pengalaman tentang ONG adalah sesuatu yang nyata, tapi jika dijelaskan dalam kata-kata, ia bisa menjadi terbatas dan tidak lagi mencerminkan keseluruhan pengalaman.

Kesimpulan:
Segala sesuatu yang dianggap mutlak oleh pikiran, setelah dipahami, bisa kehilangan sifat kemutlakannya.
Sesuatu hanya mutlak jika tidak dicoba untuk dipahami dengan pikiran, tetapi dialami langsung dalam kesadaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar