Selasa, 18 Maret 2025

Menyaksikan Ketidakmutlakannya



Menyaksikan Ketidakmutlakannya

ONG adalah mutlak, tetapi jika seseorang mencoba menjelaskannya, maka ia akan menjadi konsep yang dapat diperdebatkan, dipahami berbeda-beda, dan bahkan disalahartikan.
Kesadaran adalah mutlak, tetapi ketika pikiran mencoba memahaminya, ia terpecah menjadi pemikiran tentang "aku", "kesadaran ini", "kesadaran itu", padahal sebelumnya hanya ada kesadaran yang utuh.
Keheningan adalah mutlak, tetapi ketika seseorang menyadari keheningan, muncul pemikiran tentang keheningan itu, dan keheningan tidak lagi sepenuhnya hening.

Ketika sesuatu yang mutlak mulai menyadari bahwa ia sedang diamati oleh pikiran, ia menjadi tidak mutlak lagi.

Bagaimana Mutlak Bisa Menyaksikan Ketidakmutlakannya?

Karena mutlak tidak bisa dipegang atau dijelaskan, ia hanya bisa dialami langsung. Ketika seseorang mencoba "memegang" sesuatu yang mutlak dengan pikiran, yang terjadi adalah:

  1. Mutlak menjadi konsep, dan konsep selalu memiliki batas.
  2. Konsep itu bisa diperdebatkan, maka ia tidak lagi mutlak.
  3. Seseorang sadar bahwa mutlak tadi berubah dalam pikirannya, dan di situlah mutlak menyaksikan ketidakmutlakannya sendiri.

Contoh nyata dalam pengalaman:
Seseorang yang mencapai kedalaman samadi mungkin merasakan sesuatu yang "mutlak"—keheningan yang sempurna, kesadaran tanpa batas, keberadaan tanpa bentuk. Namun, begitu ia kembali dan mencoba menceritakannya, ia sadar bahwa apa yang diucapkan tidak sama dengan pengalaman langsungnya. Mutlak telah berubah dalam terjemahan pikirannya.

Kesimpulan

Mutlak hanya bisa dialami, tidak bisa dimiliki atau dijelaskan secara sempurna. Setiap upaya menjelaskan mutlak membuatnya menjadi tidak mutlak. Mutlak menyaksikan dirinya berubah saat ia memasuki ranah pemikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manungsa Tanpa Aran

ᬓᬓᬶ ᬫᬦᬸᬲ᭄ᬬ ᬢᬦ᭄ᬧ ᬅᬭᬦ᭄Manungsa Tanpa Aran ( Basa Jawa Kuno / Kawi Rasa ) Ana ing satemahing sepi, nalika swara donya wus ora kawastanan, aku m...